Presiden Joko Widodo. FOTO: MI/RAMDANI
Presiden Joko Widodo. FOTO: MI/RAMDANI

3 Poin Penting Pendukung Pembangunan Infrastruktur Negara Berkembang

Angga Bratadharma • 17 November 2022 13:31
Bali: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan tiga hal penting bagi Partnership for Global Infrastructure and Investment (PGII) dalam mendukung pembangunan infrastruktur di negara berkembang. Hal tersebut dikarenakan krisis multidimensional yang tengah dihadapi dunia membawa tantangan tersendiri bagi pembangunan infrastruktur di negara berkembang.
 
Hal itu termasuk melalui penyusutan ruang fiskal. Adapun tiga hal penting itu yakni pertama, dukungan yang diberikan PGII harus bersifat country driven dan berdasarkan kebutuhan riil negara tujuan. Selain itu, PGII juga harus menjadikan konsultasi dan dialog dengan negara penerima sebagai pedoman utama.
 
"Pembangunan infrastruktur perlu memberdayakan masyarakat dan ekonomi setempat agar memiliki rasa kepemilikan yang tinggi disertai dukungan bagi negara berkembang untuk membangun kapasitas dan kemampuan mandiri," kata Presiden dalam sambutannya pada penyelenggaraan Side Event PGII, dilansir dari keterangan tertulisnya, Kamis, 17 November 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dengan demikian, negara berkembang dapat lebih tangguh menghadapi tantangan global di masa mendatang," tambah Presiden.
Baca: Indonesia Bakal Terima USD20 Juta dari Negara Kaya untuk Hentikan Operasional PLTU

Presiden mencontohkan saat ini Indonesia juga sedang mendorong pemerataan pembangunan melalui pemindahan Ibu Kota ke Nusantara. Presiden meyakini langkah tersebut akan mampu membuka peluang investasi sebesar USD20,8 miliar di berbagai sektor infrastruktur.
 
Kedua, upaya PGII dalam mendukung pembangunan infrastruktur di negara berkembang juga harus didasarkan pada paradigma kolaborasi. Presiden minta PGII untuk melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta, yang dinilai akan membawa manfaat nyata.
 
"Saya percaya inisiatif seperti PGII akan semakin bermanfaat jika melibatkan sebanyak-banyaknya negara di dunia," ujar Presiden.
 
Ketiga, Presiden menambahkan bahwa PGII harus menghasilkan dukungan pembangunan berkelanjutan, termasuk lewat pembangunan hijau dan transisi energi. Menurut Presiden, negara berkembang menjadi negara paling rentan terhadap tantangan pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim.
 
Namun, Presidensi G20 Indonesia telah berupaya mendorong kerja sama nyata di bidang infrastruktur berkelanjutan dan pendanaan pembangunan. "Indonesia sendiri juga bersungguh-sungguh mengembangkan industri hijau, termasuk ekosistem industri mobil listrik, sebagaimana Yang Mulia saksikan langsung di KTT Bali ini," kata Presiden.

 
Presiden pun menegaskan Indonesia selalu mendukung penguatan pembangunan infrastruktur di negara-negara berkembang. "Indonesia siap mendukung inisiatif PGII. Harapan saya PGII dapat memperkuat hasil yang telah dicapai di G20," ujar Presiden.
 
Sebagai informasi, PGII merupakan upaya kolaboratif oleh anggota G7 (Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada dan Prancis) yang diluncurkan pertama kali pada Juni 2021 pada KTT G7 ke-47 di Inggris.
 
PGII memiliki komitmen selama lima tahun ke depan akan menginvestasikan USD600 miliar dalam bentuk pinjaman dan hibah untuk proyek infrastruktur berkelanjutan bagi negara berkembang.
 
Pada kesempatan tersebut, Presiden Indonesia Joko Widodo, Presiden Amerika Serikat Joe Biden, dan Presiden Komisi Eropa Ursula Von der Leyen menjadi tuan rumah bersama sekelompok pemimpin negara G20 yakni Jepang, Jerman, Korea Selatan, Senegal, Kanada, Argentina, Inggris, dan India.
 
Kegiatan tersebut menjadi momentum yang tepat untuk menunjukkan komitmen guna mempercepat investasi dalam infrastruktur yang berkualitas di negara-negara miskin dan menengah di seluruh dunia, serta memperkuat ekonomi global.

 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif