Pemerintah mulai mendorong penggunaan pendekatan berbasis data untuk merespons fenomena meningkatnya generasi “sandwich” di Indonesia.
Pemerintah mulai mendorong penggunaan pendekatan berbasis data untuk merespons fenomena meningkatnya generasi “sandwich” di Indonesia.

National Transfer Accounts (NTA) Jadi Metode Mengatasi Maraknya Sandwich Generation

Arif Wicaksono • 06 April 2026 12:55
Ringkasnya gini..
  • Pemerintah mulai mendorong penggunaan pendekatan berbasis data untuk merespons fenomena meningkatnya generasi “sandwich” di Indonesia.
  • Untuk itu, pemerintah memperkenalkan pendekatan National Transfer Accounts (NTA) sebagai instrumen analisis.
Jakarta: Pemerintah mulai mendorong penggunaan pendekatan berbasis data untuk merespons fenomena meningkatnya generasi “sandwich” di Indonesia. Kelompok ini merupakan usia produktif yang harus menopang kebutuhan ekonomi dua arah sekaligus anak-anak dan orang tua.
 
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa peran generasi sandwich tidak bisa terus dibebankan tanpa batas. Menurutnya, meski kelompok ini dituntut tetap produktif, kapasitas mereka tetap memiliki limitasi.
 
Baca juga: Percepatan Stimulus Fiskal Bisa Dorong Ekonomi Tumbuh 5,4%

 
“Jadi, karena sandwich generation ini kan ada limitasinya juga. Sandwich generation itu harus produktif. Kalau tidak, dia tidak bisa menopang ke bawah dan tidak bisa menopang ke atas. Tetapi, kemampuan sandwich generation juga ada batasnya,” ujarnya dalam agenda Dialog
Menuju Kesejahteraan Antar-Generasi di Gedung Bappenas, dikutip dari Antara

Untuk itu, pemerintah memperkenalkan pendekatan National Transfer Accounts (NTA) sebagai instrumen analisis. Metode ini digunakan untuk memetakan aliran sumber daya ekonomi antar kelompok usia, mulai dari anak-anak sebagai konsumen, kelompok usia produktif sebagai penghasil, hingga lansia sebagai kelompok yang kembali membutuhkan dukungan.
 
Melalui pendekatan ini, pemerintah dapat melihat secara lebih jelas bagaimana distribusi beban ekonomi terjadi, baik melalui mekanisme keluarga, pajak, maupun kepemilikan aset. Dengan demikian, kebijakan publik tidak lagi disusun berdasarkan asumsi, melainkan berbasis data yang lebih terukur.
 
Selain itu, NTA juga dinilai penting dalam menentukan prioritas pembangunan. Misalnya, dalam menyeimbangkan kebutuhan antara pembiayaan pendidikan anak dan layanan kesehatan bagi lansia. Pendekatan ini sekaligus menjadi alat proyeksi jangka panjang dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, terutama dalam menyiapkan kebutuhan tenaga pendidik, tenaga
 
kesehatan, serta infrastruktur yang sesuai dengan perubahan struktur demografi.
“Ini berbicara mengenai kebijakan publik masa depan Indonesia tentang anak-anak kita, tentang orang tua kita, tentang kita yang akan menjadi tua. Jadi, kalau kita ilustrasikan, sebetulnya kita sehari-hari pasti akan bertanya siapa yang sebenarnya membayar anak-anak kita bersekolah. Bisa orang tua, kombinasi dengan pemerintah dan juga masyarakat. Siapa yang membayar rumah sakit untuk kakek-kakek kita? Siapa yang bekerja menghasilkan uang?,” kata Praktikno.
 
Penerapan NTA diharapkan mampu mengurangi tekanan ekonomi yang selama ini ditanggung generasi sandwich. Dengan distribusi manfaat pembangunan yang lebih seimbang, beban tidak lagi terpusat pada satu kelompok usia saja. Kemudian juga berfungsi sebagai alat untuk membuat proyeksi strategis menuju Indonesia Emas 2045 dengan menyiapkan kebutuhan guru, dokter, dan infrastruktur sesuai perubahan struktur usia penduduk.
 
Alat ukur ini juga menjamin beban ekonomi pada sandwich generation agar tak terlalu berat dengan menyeimbangkan distribusi manfaat pembangunan bagi seluruh kelompok usia, serta mengidentifikasi investasi yang paling mendesak dan berdampak besar dengan memastikan setiap rupiah anggaran digunakan secara bijak untuk kualitas hidup warga.
 
Pratikno menekankan isu ini bukan hanya persoalan generasi saat ini, melainkan menyangkut siklus kehidupan seluruh masyarakat. Mulai dari pembiayaan pendidikan anak, produktivitas usia kerja, hingga pembiayaan kesehatan di usia lanjut.
 
Ke depan, pemerintah mendorong seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk memanfaatkan NTA sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan. Meski secara nasional dapat dibuat kerangka besar, implementasi di daerah tetap perlu disesuaikan dengan kondisi demografi masing-masing.
 
Di sejumlah wilayah, kebijakan mungkin lebih difokuskan pada pendidikan anak, sementara daerah lain perlu memperkuat layanan kesehatan lansia atau bantuan sosial bagi kelompok usia tua. Dengan pendekatan yang lebih terukur ini, pemerintah berharap tekanan terhadap generasi sandwich dapat dikelola dengan lebih baik, sekaligus memastikan pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan antar generasi.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan