Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - - Foto: dok Kemenkeu.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - - Foto: dok Kemenkeu.

Menkeu: RI Butuh Rp3.461 Triliun Tangani Masalah Perubahan Iklim

Eko Nordiansyah • 28 Juni 2022 14:19
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penanganan masalah perubahan iklim membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi dalam rangka penanganan iklim melalui Nationally Determined Contribution (NDC).
 
Dalam komitmen tersebut, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi hingga 29 persen pada 2030 dengan usaha sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional. Dana yang dibutuhkan untuk mencapai target tadi diperkirakan mencapai Rp3.461 triliun.
 
"Berapa dibutuhkan biaya untuk mencapai NDC tersebut? Berdasarkan estimasi, kita sampaikan bahwa kebutuhan total Rp3.461 triliun, itu angka duit beneran," kata dia dalam video conference, Selasa, 28 Juni 2022.
 
Baca Juga: Jokowi Tegaskan Risiko Perubahan Iklim Sangat Nyata bagi Negara Berkembang

Ia menambahkan, sektor energi dan transportasi merupakan dua sektor yang memiliki kontribusi terbesar pendanaan tersebut sebesar Rp3.307 triliun karena menyumbang emisi terbesar. Sementara sektor kehutanan dan lingkungan hidup memiliki porsi pendanaan yang kecil, meski kontribusi pengurangan emisinya besar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau kita lihat kontribusi dari biaya ini, sektor kehutanan kecil tapi kontribusi (penurunan) CO2-nya besar. Jadi dalam hal ini sektor kehutanan itu hanya butuhkan Rp77,8 triliun untuk penurunan CO2 sebesar 497-692 juta ton dari sisi sektor kehutanan kalau menggunakan 21 persen atau 41 persen persen penurunan CO2," ungkapnya.
 
Selain sektor energi dan transportasi, serta kehutanan dan lingkungan hidup, sektor lain yang juga punya kontribusi terhadap penurunan emisi adalah IPPU dengan kontribusi pendanaan terbesar ketiga sebesar Rp40,77 triliun. Kemudian diikuti sektor limbah Rp30,34 triliun dan pertanian Rp5,18 triliun.
 
"Bandingkan sektor kedua (energi dan transportasi) untuk menurunkan CO2 sebesar 414 juta ton kita butuhkan Rp3.300 triliun sendiri. Untuk itu, strategi pendanaan kita tetap bisa membangun untuk jadi negara maju namun biayanya berbeda-beda," pungkas dia.

 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif