Ilustrasi. Foto: Kementerian Keuangan
Ilustrasi. Foto: Kementerian Keuangan

Ekonomi RI Masih Solid, Tapi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Perlu Disesuaikan

Annisa ayu artanti • 14 Mei 2026 11:09
Ringkasnya gini..
  • DBS menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di awal 2026.
  • Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 direvisi dari 5,3 persen menjadi 5,1 persen.
  • Risiko global dan tekanan rupiah jadi tantangan ekonomi semester II 2026.
Jakarta: Bank DBS Indonesia menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 harus direvisi, meskipun fundamental ekonomi saat ini solid. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dinilai perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen dari sebelumnya 5,3 persen.
 
Seperti diketahui, eskalasi geopolitik global dan fluktuasi harga energi dunia terus membayangi ketahanan ekonomi Indonesia. Namun, ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal pertama 2026. Angka ini membuktikan pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga 2022.
 
DBS Group Research menilai fundamental ekonomi Indonesia pada awal tahun masih sangat solid, meski tantangan volatilitas global pada semester kedua 2026 tetap perlu diantisipasi secara hati-hati.
 
Baca juga: Dorongan Belanja Negara & Konsumsi Warga Sebabkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 5,61%

Fundamental ekonomi masih kuat, tetapi risiko global meningkat

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun didorong oleh konsumsi domestik yang tetap kuat, stimulus fiskal pemerintah, peningkatan belanja negara, serta momentum musiman selama periode hari besar keagamaan. Konsumsi rumah tangga dan pemerintah tumbuh hingga 7 persen yoy, sementara investasi tetap solid di kisaran 6 persen yoy.

Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao menjelaskan, Indonesia memulai 2026 dengan fondasi ekonomi yang positif, namun risiko eksternal membuat proyeksi pertumbuhan tahunan perlu disesuaikan.
 
“Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen (dari sebelumnya 5,3%) guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar Rupiah,” ujar Radhika dalam keterangan tertulis, Kamis, 14 Mei 2026.
 
DBS Research menilai kuartal pertama 2026 kemungkinan menjadi titik tertinggi pertumbuhan ekonomi tahun ini.
 
Namun ke depan, aktivitas ekonomi diperkirakan menghadapi tekanan dari tingginya harga energi global, volatilitas pasar keuangan, serta kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan