Berdasarkan analisis Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER), pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% secara tahunan (YoY), naik dari 5,39% pada kuartal IV 2025. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak kuartal III 2022.
| Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dibayangi Penurunan Cadangan Devisa dan Lonjakan Utang |
Namun, secara kuartalan ekonomi masih terkontraksi 0,77%, yang menunjukkan bahwa lonjakan tahunan tersebut juga dipengaruhi faktor musiman seperti Ramadan–Idulfitri, basis perbandingan rendah tahun sebelumnya, serta percepatan belanja pemerintah di awal tahun.
Konsumsi dan Belanja Pemerintah Jadi Mesin Utama
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada permintaan domestik.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah,” ujarnya.
Konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang terbesar PDB tumbuh 5,52% YoY, meningkat dari 5,11% pada kuartal sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh aktivitas belanja selama Ramadan dan Idulfitri serta menguatnya kepercayaan konsumen.
Di sisi lain, belanja pemerintah melonjak signifikan hingga 21,31% YoY, didorong percepatan realisasi fiskal serta program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara itu, investasi atau PMTB tumbuh lebih moderat di level 5,96% YoY, meski masih ditopang sektor bangunan dan proyek strategis pemerintah.
Dalam struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia, ekspor masih menjadi titik lemah. Ekspor hanya tumbuh 0,90% YoY akibat ketidakpastian global, sementara impor naik 3,22% YoY seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal. Hal ini menunjukkan bahwa motor utama ekonomi masih berasal dari konsumsi dalam negeri, bukan ekspansi eksternal.
Sektor Akomodasi dan Transportasi Jadi Bintang
Dari sisi sektoral, sektor akomodasi dan makanan-minuman mencatat lonjakan tertinggi, dari 7,41% menjadi 13,14% YoY. Sektor jasa lainnya serta transportasi dan pergudangan juga tumbuh kuat.Namun industri pengolahan, sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, melambat ke 5,04% YoY dari 5,40% pada kuartal sebelumnya. Sektor pertambangan juga masih tertekan akibat pengendalian produksi komoditas mineral.
Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026 berada di 4,68% dengan jumlah pekerja mencapai 147,67 juta orang. Meski penyerapan tenaga kerja masih meningkat, kualitas pekerjaan menjadi sorotan.
Proporsi pekerja formal menurun tipis, sementara pekerja paruh waktu meningkat. Ini menandakan tantangan struktural dalam kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama terkait informalitas dan pendapatan kelompok menengah bawah.
Manufaktur Melambat, Risiko Eksternal Masih Tinggi
Sektor manufaktur menunjukkan perlambatan. PMI turun ke level 49,1 pada April 2026, menandakan kontraksi aktivitas produksi akibat kenaikan biaya input dan penurunan permintaan.Di pasar keuangan, investor asing mencatat arus keluar bersih USD 1,79 miliar pada kuartal I 2026, mencerminkan kehati-hatian terhadap kondisi global, pelemahan rupiah, serta tekanan fiskal.
PIER memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 akan berada di kisaran 5,1–5,3%, dengan konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama.
Namun risiko eksternal seperti perang dagang, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi global masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tergolong kuat dan kredibel. Namun kualitas pertumbuhan masih menjadi tantangan.
Dominasi konsumsi dan belanja pemerintah, melambatnya investasi, serta tekanan di sektor manufaktur menunjukkan bahwa mesin ekonomi belum sepenuhnya seimbang.
Ke depan, sinergi kebijakan fiskal dan moneter diperlukan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya kuat di angka, tetapi juga lebih merata dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan penguatan sektor produktif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News