Inflasi. Foto: Unsplash.
Inflasi. Foto: Unsplash.

Tekanan Harga Pangan dan Energi Jadi Pendorong Utama Inflasi Mei 2026 Naik ke 3,08%

Arif Wicaksono • 03 Juni 2026 14:57
Jakarta: Tekanan inflasi Indonesia kembali meningkat pada Mei 2026, menandai berlanjutnya tren kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 0,28% secara bulanan (month to month/MoM), sementara inflasi tahunan (year on year/YoY) mencapai 3,08%, naik dari 2,42% pada April 2026.
 
Baca juga: Konsumen Zona Euro Khawatir Inflasi Tetap Tinggi Setelah Harga Minyak Melonjak

Kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu oleh lonjakan harga pangan serta meningkatnya biaya energi di tengah dinamika global dan faktor musiman. Sektor makanan, minuman, dan tembakau (food, beverage, and tobacco/FBT) kembali menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan kontribusi 0,12 poin persentase.
 
Kenaikan ini terutama didorong oleh harga cabai merah yang melonjak hingga sekitar 48% MoM, seiring menurunnya produksi di beberapa sentra dan meningkatnya permintaan menjelang Idul Adha.
 
Sektor transportasi juga memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi dengan kontribusi 0,07 poin persentase. Hal ini tidak terlepas dari kenaikan harga energi global yang dipicu ketegangan geopolitik, termasuk konflik AS–Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak dan LPG secara signifikan sejak awal tahun. Dampaknya turut merambat ke harga bahan bakar, avtur, solar, hingga biaya logistik.

Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru menjadi penahan laju inflasi. Sektor ini mencatat kontribusi deflasi sebesar -0,05 poin persentase, yang menandai tren penurunan harga selama tiga bulan berturut-turut. Penurunan terutama berasal dari harga emas yang terkoreksi sekitar -2,7% MoM, meski secara tahunan masih berada di level tinggi.
 
Secara tahunan, kelompok FBT tetap menjadi kontributor terbesar inflasi dengan sumbangan sekitar 1,43 poin persentase. Komoditas utama yang mendorong kenaikan antara lain ikan, cabai merah, dan ayam ras.
 
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menilai tekanan inflasi saat ini masih didominasi oleh faktor pangan dan energi, serta dipengaruhi oleh dinamika permintaan musiman dan program pemerintah di sektor sosial.
 
“Inflasi masih banyak dipengaruhi oleh harga pangan yang volatil serta dampak dari penyesuaian harga energi global. Di sisi lain, program bantuan sosial dan peningkatan konsumsi juga ikut mendorong permintaan terhadap komoditas utama,” ujar Jessica.
 
Jessica juga menyoroti peran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut turut memperkuat permintaan bahan pangan, seiring peningkatan jumlah penerima manfaat yang mencapai hampir 62 juta orang pada April 2026, jauh meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Dari sisi inflasi inti, tekanan harga menunjukkan tren kenaikan yang lebih stabil.
 
Tanpa memasukkan komponen emas, inflasi inti tercatat naik menjadi 1,61% YoY pada Mei 2026 dari 1,34% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk biaya pendidikan menjelang tahun ajaran baru, kenaikan harga sewa di kawasan perkotaan, serta pemulihan konsumsi pasca-Ramadan yang tercermin dari lonjakan penjualan mobil.

Pemulihan Konsumsi Rumah Tangga 

Meski demikian, pemulihan konsumsi rumah tangga dinilai masih belum merata. Data penjualan ritel masih menunjukkan kontraksi 1,9% YoY pada April 2026, sementara perilaku konsumen cenderung lebih hati-hati. Porsi pengeluaran untuk konsumsi turun menjadi 72%, sementara porsi tabungan meningkat menjadi 18,2%, menandakan kehati-hatian dalam belanja rumah tangga masih cukup tinggi.
 
Menurut Jessica, kondisi tersebut mencerminkan pemulihan ekonomi domestik yang belum sepenuhnya solid. “Kita melihat adanya perbaikan di beberapa indikator, tetapi belum cukup untuk mendorong konsumsi secara luas. Konsumen masih selektif dalam membelanjakan pendapatan mereka,” ujarnya.
 
Ke depan, tekanan inflasi diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh faktor cuaca, harga pangan global, serta ketidakpastian geopolitik yang dapat menjaga biaya energi tetap tinggi. Kondisi ini berpotensi memperkuat narasi inflasi yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang, sekaligus menjadi perhatian bagi arah kebijakan moneter Bank Indonesia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan