| Baca juga: Wacana Pemotongan Gaji Menteri Masih Dikaji, Seskab: Segera Dibahas |
Komitmen tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Pemerintah yang digelar di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4), yang dihadiri ratusan pejabat mulai dari birokrat, direksi BUMN, hingga pimpinan TNI dan Polri.
“Presiden menegaskan rasio utang akan dijaga di level 40 persen, meskipun undang-undang memperbolehkan hingga 60 persen. Begitu juga dengan defisit, tetap di 3 persen sampai akhir tahun,” ujar Airlangga usai rapat dikutip dari Antara.
Batas tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menetapkan ambang maksimal rasio utang dan defisit.
Indikator Ekonomi Dinilai Masih Solid
Dalam rapat yang berlangsung sekitar empat jam itu, pemerintah juga memaparkan sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan kondisi domestik masih relatif kuat.Airlangga menyebutkan beberapa indikator utama seperti indeks keyakinan konsumen, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur, cadangan devisa, hingga neraca pembayaran berada dalam tren positif. Penerimaan pajak juga mencatat pertumbuhan signifikan.
“Hingga Maret, penerimaan pajak tumbuh 14,3 persen menjadi sekitar Rp462,7 triliun. Sektor manufaktur juga masih berada dalam fase ekspansi,” jelasnya.
Dengan capaian tersebut, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tetap terjaga di kisaran target.
“Pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama diperkirakan bisa mencapai sekitar 5,5 persen, bahkan berpotensi sama atau lebih tinggi dari itu,” kata Airlangga.
Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Sorotan
Selain kinerja makroekonomi, rapat juga menyoroti ketahanan pangan nasional yang dinilai cukup kuat. Produksi beras sepanjang 2025 tercatat mencapai 34,7 juta ton, sementara stok beras yang dikelola Bulog telah menyentuh 4,6 juta ton.“Ketahanan pangan kita dalam kondisi relatif aman dengan stok yang cukup besar,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan kebijakan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga fiskal, salah satunya melalui implementasi program biodiesel B50 yang akan mulai berlaku pada 1 Juli mendatang.
Program ini diproyeksikan mampu memberikan penghematan anggaran hingga Rp48 triliun.
Jaga Momentum di Tengah Ketidakpastian
Meski sejumlah indikator menunjukkan kinerja positif, pemerintah tetap menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus stabilitas ekonomi.
Rapat Kerja Pemerintah yang dibuka untuk umum pada sesi awal tersebut kemudian dilanjutkan secara tertutup, dengan fokus pada pembahasan strategi kebijakan ke depan.
Dengan kombinasi disiplin fiskal, penguatan sektor riil, serta kebijakan energi, pemerintah berharap ekonomi Indonesia tetap tahan terhadap tekanan global sekaligus menjaga kepercayaan pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News