Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengatakan, keinginan Tiongkok untuk mendepresiasi mata uangnya dipengaruhi dua hal. Pertama, karena Tiongkok merupakan negara menyumbang PDB dunia nomor dua, kedua karena yuan yang sudah masuk dianggap Special Drawing Rights ke International Monetary Fund (IMF) sehingga perlu mata uang yang stabil.
Baca: Tiongkok Sambut Penurunan Mata Uang Yuan
"Begini, Tiongkok sendiri saya rasa mereka ingin kurs yang kompetitif. Jadi memang kalau Tiongkok ada depresiasi tapi depresiasi itu akan dilakukan dengan sangat hati-hati, pelan-pelan sekali. Dampak kepada emerging market dapat terkandali," ujarnya di kompleks perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (1/7/2016).
Sementara bagi Indonesia, depresiasi mata uang yuan tak akan terlalu berpengaruh. Apalagi Indonesia memerlukan kurs yang kompetitif untuk ekspor tetapi di sisi lain Indonesia juga perlu kurs yang stabil untuk kebutuhan impor.
"Sehingga kursnya harus stabil tapi dalam suatu level yang cukup kompetitif. Karena kalau kursnya kompetitif juga bisa mengundang inflow masuk terus. Kalau kurs terlalu kuat inflow juga berhenti. Kalau inflow masuk banyak maka akan meningkatkan cadangan devisa," jelas dia.
Diberitakan sebelumnya, Bank Sentral Tiongkok menyambut jatuhnya mata uang yuan sebesar 6,9 persen terhadap dolar AS pada tahun ini, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kebijakan ini sejalan dengan penurunan 4,5 persen pada tahun lalu.
"Mata uang yuan diperdagangkan pada level terendah selama lebih dari lima tahun. Bank sentral menjamin penurunan bertahap untuk mengantisipasi ketakutan dari capital outflows yang akan mengguncang perekonomian pada awal tahun ini dan datangnya dari sejumlah kritik dari negara mitra dagang seperti US," ujar ekonom pemerintah dan penasihat yang terlibat dalam diskusi pengambilan keputusan seperti dikutip Reuters.
Kejutan atas penurunan yuan pada Agustus tahun lalu mengirimkan sinyal ke pasar global kedalam ketakutan bahwa negara dengan perekonomian terbesar kedua itu sedang dalam bahaya, sekaligus menyebabkan keluarnya dana karena investor condong mengamankan dananya ke negara safe haven.
"Bank Sentral menyukai depresiasi yuan selama berada dalam kontrol," kata ekonom pemerintah yang tak mau disebutkan namanya itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News