Ilustrasi. (FOTO/China Daily).
Ilustrasi. (FOTO/China Daily).

Tiongkok Sambut Penurunan Mata Uang Yuan

Arif Wicaksono • 30 Juni 2016 21:32
medcom.id, Beijing: Sumber Reuters menyatakan Bank sentral Tiongkok menyambut jatuhnya mata uang yuan sebesar 6,9 persen terhadap dolar AS pada tahun ini, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kebijakan ini sejalan dengan penurunan 4,5 persen pada tahun lalu.
 
"Mata uang yuan diperdagangkan pada level terendah selama lebih dari lima tahun. Bank sentral menjamin penurunan bertahap untuk mengantisipasi ketakutan dari capital outflows yang akan mengguncang perekonomian pada awal tahun ini dan datangnya dari sejumlah kritik dari negara mitra dagang seperti US," ujar ekonom pemerintah dan penasihat yang terlibat dalam diskusi pengambilan keputusan seperti dikutip Reuters, Kamis (30/6/2016).
 
Kejutan atas penurunan yuan pada Agustus tahun lalu mengirimkan sinyal ke pasar global kedalam ketakutan bahwa negara dengan perekonomian terbesar kedua itu sedang dalam bahaya, sekaligus menyebabkan keluarnya dana karena investor condong mengamankan dananya ke negara safe haven.

"Bank Sentral menyukai depresiasi yuan selama berada dalam kontrol," kata ekonom pemerintah yang tak mau disebutkan namanya itu.
 
Yuan juga semakin tertekan setelah adanya voting Brexit dan sejauh ini bank sentral kelihatan tak menginterversi dan sangat senang dengan penurunan mata uang Tiongkok.
 
Negara emerging market lainnya juga mengalami penurunan mata uang, namun yuan merupakan mata uang asia yang mengalami penurunan terdalam terhadap dolar pada tahun ini.
 
Mata uang Yuan dalam indeks CNF=CFXS mendekati 6,64 yuan per dollar pada kamis, kejatuhan terendah selama lima setengah tahun dan membawa kejatuhan sebesar 2,3 persen pada tahun ini.
 
Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang berulang kali mengatakan Tiongkok tidak perduli dengan usaha mendorong ekspor lewat devaluasi mata uang yang kompetitif. Menteri Luar Negeri Tiongkok juga menambahkan bahwa nilai tukar tak menjadi persoalan bagi ketidakseimbangan perdagangan dengan AS, yang mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok.
 
Tiongkok merupakan salah satu eksportir terbesar di dunia dan mengalahkan AS semenjak 1966. Oleh karena itu perubahan mata uang yuan memengaruhi ekspor negara lainnya dan menjadi perhatian banyak pihak.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan