Asep Haekal, Head of Strategy, Integrated Marketing Communication OVO  bersama Melvin Mumpuni, Certified Financial Planner & Founder Finansialku dalam sesi OVOFinTalk 2026: Bijak di Era Cashless (Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)
Asep Haekal, Head of Strategy, Integrated Marketing Communication OVO bersama Melvin Mumpuni, Certified Financial Planner & Founder Finansialku dalam sesi OVOFinTalk 2026: Bijak di Era Cashless (Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)

Cara Tetap Mindful saat Shopping Biar Nggak Boncos di Era Cashless

Muhammad Syahrul Ramadhan • 17 Juni 2026 17:49
Ringkasnya gini..
  • Masyarakat kini semakin terbiasa hidup tanpa uang tunai alias cashless .
  • Di era cashless ini juga tidak ada lagi pain of payment, masyrakat tidak perlu repot-repot ke ATM untuk ambil cash.
  • Dibalik kemudahan itu masyarakat juga perlu mulai mempraktikan mindfulness.
Jakarta: Masyarakat kini semakin terbiasa hidup tanpa uang tunai alias cashless dengan melakukan transaksi secara digital menggunakan e-wallet, QRIS atau mobile banking.
 
Berdasarkan data OVO, selama 5 tahun terakhir (2021-2025) transaksi mengalami pertumbuhan mencapai 70 persen. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengadopsi transaksi digital dalam kehidupan sehari-hari.
 
Asep Haekal, Head of Strategy, Integrated Marketing Communication OVO membeberkan fakta menarik dari data tersebut. Jika dulu banyak yang menggunakan OVO untuk transaksi di belanja online di e-commerce namu selama 2025 banyak pengguna yang bertransaksi di merchant offline untuk jajan.

“FnB itu adalah transaksi terbesar di offline merchant. Di offline merchant ya, bukan beli GrabFood ya, tapi benar-benar datang toko-toko untuk bertransaksi disitu,” jelas Haekal dalam OVOFinTalk 2026: Bijak di Era Cashless – Membangun Kebiasaan Finansial yang Lebih Cerdas dan Aman di Era Digital pada Rabu, 17 Juni 2026.
 
Lebih lanjut Haekal mengungkapkan bahwa orang melakukan transaksi offline di merchant karena adanya QRIS. “99,1 persen offline payment di OVO itu terjadi karena QRIS. Dan ternyata  lebih dari 50 persennya itu mereka belanja hal-hal receh, jadi yang kira-kira itu di bawah nominal 25.000 rupiah, ada yang beli cimol, beli kopi-kopi yang murah, basically jajan lah,” tambahnya.
 
Lebih lanjut belanja hal-hal receh ini kalau dihitung-hitung justru menguras kantong lebih besar. Karena itu, penting untuk tetap mindfull saat shopping di era cashless.
 
Ini sebagaimana disampaikan Melvin Mumpuni, Certified Financial Planner & Founder Finansialku. Dalam pemaparannya mengungkapkan kenapa di kondisi ekonomi yang seperti bukanya belanja secara bijak justru pengluarannya makin besar. Hal ini terjadi salah satunya karena banyak yang merogoh koceknya untuk melepaskan stres dengan jajan atau membeli barang yang bisa memompa dopamin.
 
Selain itu, di era cashless ini juga tidak ada lagi pain of payment. Jadi orang tidak perlu lagi repot atau susah-susah untuk mengambil uang ke ATM seperti zaman bahula yang transaksinya serba menggunakan cash. Sekarang membawa handphone sudah bisa belanja.
 
“Itu tuh ada friksi. Ya, friksnya gimana? Kalau hujan, malas keluar. Kalau misalnya lagi, jauh dari ATM, kita juga harus nyari ATM yang dulu. Jadi ada hambatan-hambatannya. Tapi ketika itu semua ada di handphone kita, contoh mau beli makanan kayak pentol terus gak dompet, asalkan bawa handphone masih bisa belanja kan? no friction,” bebernya.
 
Hal yang tidak kalah penting kenapa banyak orang melakukan transaksi cashless adalah gampang. Transaksi digital dibuat sangat mulus baik online di e-commerce atau di offline merchant.
 
“Bisa langsung pencet tombolnya, masuk langsung belanja. Inilah yang dikatakan hilangnya rasa sakit itu. Karena semuanya itu kayak seamless. Seamless itu kayak nyambung aja gitu. Ini adalah yang menyebabkan kenapa transaksi itu lebih gampang pada saat digital,” terang Melvin.
 

Mindful Spending di Era Cashless


Namun, dibalik kemudahan itu masyarakat juga perlu mulai mempraktikan mindfulness. “Nah, teman-teman hati-hati dengan itu. Sekarang itu orang butuh yang namanya mindfulness,” imbuhnya.
 
Secara lebih mendalam Melvin menjelaskan tentang mindfull spending adalah ketika membeli sesuatu itu dengan kesadaran penuh akan keluar uang, konsekuensinya dan juga menikmatinya. “Jadi tidak hanya mindfull spending itu artinya kamu beli kebutuhan, jangan beli yang keinginan. Kamu mau belanja kebutuhan boleh, belanja keinginan boleh,” bebernya.

Pakai Prinsip 3A


Melvin membagikan cara bagaimana in this economy bisa mindfull spending. Caranya dengan menerapkan 3A, yaitu Atur, Awasi, Aman. 
 
“Atur itu gini misalnya punya penghasilan gitu ya, itu kita kan biasanya udah bagi-bagi untuk kebutuhan pokok. Terus kita bagi juga post-postnya yang kita jajan,” jelasnya.
 
Lalu selanjutnya adalah awasi dengan cara mengecek history transaksi. Caranya ini dilakukan untuk melihat pengeluarannya rata-rata berapa sehingga bisa mengetahui apakah kebiasan belanja masih sehat atau justru sudah ada indikasi tidak sehat.
 
“Kebiasaan nge-check history, itu bisa tahu, bisa merefleksikan kita punya habit. Habit kita masih sehat atau nggak? Kebiasaan kita masih sehat atau nggak? Nah, teman-teman coba nge-check deh,” paparnya.
 
Terakhir adalah aman yang mana ini merupakan hal penting di era transaksi digital. Bukan hanya sekadar keamanan data yang perlu diperhatikan tetapi juga memahami modus-modus kejahatan siber yang bisa menguras e-wallet atau rekening.
 
“Contoh ya, misal website-nya namanya melvinmpuni.com, tapi ternyata n-nya double, ternyata ketika kita klik, data-data itu langsung diambil semua, hati-hati,”jelasnya.

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan