Banyak orang baru memeriksakan diri ketika keluhan kesehatan mulai mengganggu aktivitas. Padahal, sejumlah penyakit dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala yang berat pada tahap awal. Ketika baru terdeteksi setelah kondisinya memburuk, kebutuhan pemeriksaan, obat-obatan, hingga tindakan medis yang diperlukan dapat menjadi lebih kompleks.
Dari sisi keuangan rumah tangga, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban pengeluaran. Biaya yang dikeluarkan bukan hanya untuk pengobatan, tetapi juga dapat mencakup rawat inap, tindakan medis, pemeriksaan lanjutan, hingga masa pemulihan.
Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat dipandang sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan. Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, seseorang memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan gaya hidup atau mendapatkan penanganan sebelum membutuhkan perawatan yang lebih mahal.
Menunda Pemeriksaan Bisa Menambah Beban Biaya
Kecenderungan masyarakat menunda perawatan masih cukup tinggi. Studi Prudential plc bersama Economist Impact bertajuk Suara Pasien Indonesia menunjukkan sebanyak 9 dari 10 responden mengaku pernah menunda perawatan kesehatan. Hampir separuh responden bahkan mengaku melakukan penundaan tersebut berulang kali.Alasan penundaan tidak selalu berkaitan dengan sikap mengabaikan kesehatan. Faktor seperti kurangnya informasi kesehatan, kebutuhan keluarga, serta pertimbangan biaya juga dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk menunda pemeriksaan atau perawatan.
Padahal, menunda pemeriksaan dapat membawa konsekuensi finansial apabila penyakit baru diketahui ketika sudah membutuhkan penanganan yang lebih kompleks.
Beban biaya kesehatan juga menjadi persoalan yang perlu diperhitungkan dalam keuangan keluarga. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 26,6% masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membiayai layanan kesehatan pada 2025.
Pengeluaran kesehatan yang dibayar langsung oleh masyarakat atau out-of-pocket diperkirakan mencapai sekitar Rp175 triliun. Beban biaya tersebut juga disebut berpotensi membuat sekitar 12,8 juta penduduk jatuh miskin akibat pengeluaran kesehatan.
Data tersebut menunjukkan bahwa risiko kesehatan dapat berhubungan langsung dengan kondisi finansial seseorang. Pengeluaran medis dalam jumlah besar berpotensi mengurangi tabungan atau mengganggu alokasi dana untuk kebutuhan lain.
Biaya Penyakit Pernapasan Naik 106,3%
Persoalan biaya semakin penting diperhatikan di tengah meningkatnya biaya perawatan kesehatan. Salah satu contohnya terlihat pada penyakit pernapasan.Berdasarkan data industri asuransi Indonesia, rata-rata biaya perawatan penyakit pernapasan meningkat 106,3%, dari Rp49,9 juta pada 2023 menjadi sekitar Rp103 juta pada 2025.
Pada September 2026, Kementerian Kesehatan juga mencatat adanya kecenderungan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di Banten, Lampung, dan Jawa Barat.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa biaya kesehatan perlu diperhitungkan sebagai bagian dari perencanaan keuangan. Masyarakat tidak hanya perlu menyiapkan dana ketika sakit, tetapi juga dapat melakukan langkah preventif untuk menjaga risiko kesehatan tetap terkendali.
Salah satu langkah sederhana adalah melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sesuai kebutuhan dan faktor risiko masing-masing.
Cek Kesehatan Bisa Jadi Investasi Pencegahan
Pemeriksaan kesehatan rutin pada dasarnya memiliki biaya dan membutuhkan waktu. Namun, pemeriksaan tersebut dapat memberikan informasi mengenai kondisi tubuh sebelum masalah kesehatan berkembang lebih jauh.Deteksi lebih awal juga memberikan kesempatan untuk melakukan intervensi, misalnya melalui perubahan pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan berat badan, atau penanganan medis sesuai rekomendasi dokter.
Dengan pendekatan tersebut, biaya pemeriksaan rutin dapat dilihat bukan semata sebagai pengeluaran, tetapi sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko pengeluaran kesehatan yang lebih besar di kemudian hari.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan perlindungan kesehatan perlu menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga di tengah tingginya biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit.
“Memilih produk asuransi kesehatan dari perusahaan yang mampu memberikan perlindungan kesehatan sekaligus mendampingi Nasabah dalam tiap tahapan, menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan keluarga agar tidak perlu mengorbankan tabungan maupun tujuan keuangan jangka panjang ketika menghadapi kondisi medis yang tidak terduga,” ujar Yosie.
Menurut dia, kebutuhan kesehatan setiap orang dapat berubah seiring bertambahnya usia, gaya hidup, serta kondisi keluarga. Karena itu, perlindungan kesehatan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pada setiap tahap kehidupan.
Prudential Indonesia menyatakan upaya menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika seseorang membutuhkan pengobatan. Perusahaan juga menjalankan sejumlah program yang berfokus pada aspek promotif dan preventif.
Pada Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 4.570 nasabah, tenaga pemasar, dan karyawan mengikuti free mini medical check-up melalui kolaborasi dengan jaringan PRUPriority Hospitals.
Selain pemeriksaan kesehatan, Prudential Indonesia menjalankan program PRUActive. Sejak 2023, program tersebut telah mengajak lebih dari 60.000 masyarakat untuk mengikuti kegiatan olahraga bersama sebagai bagian dari upaya mendorong gaya hidup sehat.
Bagi masyarakat, pemeriksaan kesehatan rutin pada akhirnya bukan hanya persoalan mengetahui apakah tubuh sedang sehat atau tidak. Langkah tersebut juga dapat membantu seseorang membuat keputusan lebih awal mengenai gaya hidup, perawatan, dan persiapan finansial.
Di tengah kenaikan biaya layanan kesehatan, strategi menjaga kesehatan sejak dini menjadi semakin relevan. Semakin cepat faktor risiko diketahui, semakin besar pula kesempatan untuk melakukan pencegahan sebelum membutuhkan penanganan medis yang lebih kompleks.
Dengan demikian, menjaga kesehatan dan menjaga keuangan dapat berjalan beriringan. Pemeriksaan berkala, pola hidup sehat, serta perlindungan kesehatan dapat menjadi bagian dari strategi keluarga untuk mengelola risiko sekaligus menjaga tujuan keuangan jangka panjang.