IHSG. Foto: MI.
IHSG. Foto: MI.

IHSG Sempat Nyungsep ke 5.664, Aksi Jual Masih Belum Reda

Arif Wicaksono • 05 Juni 2026 09:31
Jakarta: Head of Equity Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan IHSG pada perdagangan sebelumnya sempat mengalami tekanan cukup dalam sebelum berhasil memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan pasar.
 
Baca juga:  IHSG Dibuka Melemah di Akhir Pekan, Apa yang Menjadi Perhatian Investor Hari Ini?

"IHSG sempat anjlok hingga sekitar 5 persen ke level 5.644,2 sebelum akhirnya menutup perdagangan dengan pelemahan 1,9 persen di level 5.839,8," ujar Rully dalam riset hariannya, Jumat, 5 Juni 2026.
 
Menurut dia, tekanan jual masih terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang memiliki fundamental kuat. Saham-saham perbankan seperti Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, dan Bank Mandiri, serta saham otomotif Astra International masih menjadi sasaran aksi jual investor.
 
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan pasar saat ini lebih banyak dipicu oleh meningkatnya sikap hati-hati investor (risk-off) dan tekanan likuiditas, dibandingkan perubahan pada kinerja fundamental emiten.

Selain itu, koreksi pada saham Barito Pacific dan Barito Renewables Energy turut memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan indeks. Di saat yang sama, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (outflow) di pasar reguler dengan nilai mencapai sekitar Rp1,4 triliun.

Rupiah Melemah 

Dari sisi makroekonomi, Rully menyoroti pelemahan rupiah yang untuk pertama kalinya ditutup di atas level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang mencapai 6,80 persen.
 
Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat katalis positif yang cukup kuat untuk mendorong pemulihan IHSG maupun nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
 
"Kami melihat belum ada katalis signifikan dalam waktu dekat yang dapat menopang pergerakan IHSG maupun rupiah," katanya.
 
Ia menambahkan fokus Bank Indonesia saat ini tampaknya lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan meredam arus keluar dana asing. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mempertahankan tingkat imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada level yang relatif tinggi guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik.
 
Dengan masih tingginya ketidakpastian di pasar serta minimnya sentimen positif dalam waktu dekat, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati pergerakan rupiah, arus modal asing, dan kebijakan moneter sebagai faktor utama yang memengaruhi arah pasar keuangan Indonesia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan