Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama lebih dari 200 orang lainnya. Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Situasi ini memperburuk ketegangan geopolitik yang sebelumnya sudah rapuh.
| Baca juga: Kapan Perang Berakhir? Begini Kata Pemerintah Iran |
Pada saat yang sama, Iran disebut menutup Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar 15–20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20% pasokan global. Penutupan tersebut menghentikan lalu lintas kapal tanker dan menyebabkan ratusan kapal tertahan.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga Brent melonjak 7–8% ke kisaran USD78–USD80 per barel, sementara WTI naik ke atas USD72 per barel. Jika gangguan berlangsung lama, Farras memperkirakan harga minyak berpotensi menembus USD100 per barel, yang dapat memicu tekanan inflasi global dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Posisi Indonesia di Tengah Guncangan Energi
Di tengah gejolak tersebut, Indonesia dinilai berada dalam posisi yang relatif defensif namun tetap menghadapi tantangan struktural di sektor minyak dan gas (migas).Industri hulu migas nasional tergolong pasar matang dengan tren penurunan produksi. Output tercatat turun dari 801 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) pada 2017 menjadi sekitar 530 mboepd pada proyeksi 2026. Minimnya reinvestasi dan belanja modal (capex) hulu yang belum kembali ke level puncak menjadi faktor utama yang menahan pertumbuhan produksi.
Secara fundamental, sensitivitas emiten hulu terhadap harga Brent masih ada, dengan perubahan sekitar 3–5% pada level EBITDA untuk setiap kenaikan USD5 per barel. Namun, mayoritas emiten energi di Bursa Efek Indonesia memiliki eksposur besar ke gas bumi, yang harganya cenderung berbasis kontrak atau diatur.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) hampir sepenuhnya berbasis gas. Sementara PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memperoleh sekitar 50–70% pendapatan dari gas.
Dengan struktur seperti ini, reli harga minyak memang memberikan dorongan terhadap kinerja, tetapi dampaknya tidak sepenuhnya optimal. Di sisi lain, risiko penurunan harga juga tetap signifikan apabila konflik mereda.
Lebih Pilih Logam, Netral di Energi
Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, Farras menyatakan pihaknya tetap mengunggulkan sektor logam dibanding energi. Emas menjadi pilihan utama sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan tren de-dolarisasi global.Harga emas saat ini berada di kisaran USD5.390 per ons. Permintaan bank sentral tercatat mencapai 230,3 ton atau naik 5,6% secara kuartalan, sementara permintaan investasi naik 8,9% menjadi 595 ton.
Selain emas, tembaga dan timah juga dinilai menarik secara struktural. Permintaan kedua komoditas tersebut diperkirakan meningkat seiring ekspansi kecerdasan buatan (AI) dan belanja pertahanan global. Di sisi pasokan, gangguan produksi di Indonesia dan Myanmar serta penurunan kadar bijih dari tambang-tambang tua mempersempit ruang suplai.
Secara global, defisit tembaga diproyeksikan mencapai 2,4 juta ton pada 2030, sementara defisit timah diperkirakan sekitar 55 ribu ton.Dengan kombinasi ketegangan geopolitik dan transisi energi global, sektor logam dinilai memiliki fundamental jangka menengah yang lebih kuat dibandingkan sektor energi yang sangat bergantung pada dinamika konflik dan kebijakan global.
Di tengah volatilitas yang meningkat, investor disarankan lebih selektif dalam memilih sektor dan memperhatikan eksposur terhadap risiko eksternal yang sulit diprediksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News