Presiden Direktur CYBR  Patrick Rudolf Dannacher. Foto: Istimewa,
Presiden Direktur CYBR Patrick Rudolf Dannacher. Foto: Istimewa,

CYBR Gaspol Garap Pasar RI, Fokus di 3 Layanan Andalan

Arif Wicaksono • 22 Mei 2026 12:31
Jakarta: Emiten teknologi dan keamanan siber, PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) , menegaskan fokus ekspansi bisnisnya pada 2026 akan diarahkan ke layanan berbasis kecerdasan buatan (AI), akademi keamanan siber, hingga perlindungan infrastruktur kritis nasional.
 
Presiden Direktur CYBR  Patrick Rudolf Dannacher mengatakan perusahaan melihat permintaan terhadap layanan AI dan keamanan digital terus meningkat, terutama di Indonesia. Karena itu, perseroan memilih memperkuat pasar domestik sebelum memperluas penetrasi internasional.
 
Baca juga: Cara ITSEC Asia Dukung Talenta Muda dan Inovasi AI Demi Ketahanan Siber Nasional 

“Seperti yang saya katakan sebelumnya, ekspansi kami benar-benar berfokus pada operasi AI, Cyber ​​AI Academy, dan semua hal terkait keamanan. Fokus utama kami adalah untuk memberikan fitur, produk, atau layanan baru ini kepada klien dengan cara terbaik. Permintaan di sini cukup tinggi untuk semua layanan ini, yang bagi kami merupakan platform terbaik untuk beroperasi dan mengubah prospek menjadi klien yang membayar. Jadi fokus kami adalah Indonesia terlebih dahulu, benar-benar mengembangkan pasar domestik dengan ketiga layanan baru ini,” ujar Patrick dalam paparan publik kemarin. 
 
Menurut dia, perkembangan AI kini menjadi perhatian utama berbagai sektor industri. Hal tersebut terlihat dari tingginya pembahasan terkait AI di berbagai media dan kebutuhan perusahaan untuk mulai mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam operasional bisnis mereka.

Dia menilai momentum tersebut menjadi peluang besar bagi perusahaan untuk memperluas layanan AI Operations, Cyber AI Academy, hingga solusi keamanan Operational Technology (OT Security). Layanan OT Security difokuskan untuk melindungi infrastruktur penting seperti kilang minyak, jaringan listrik, dan fasilitas strategis lainnya.
 
Selain memperkuat layanan keamanan siber, CYBR juga mulai mendorong pengembangan produk teknologi lokal. Perseroan menilai ketergantungan terhadap produk asing dapat menjadi tantangan di tengah fluktuasi mata uang dan dinamika impor global.
 
“Kami percaya di Indonesia terdapat cukup banyak talenta sehingga jika kita berusaha, kita dapat mengembangkan produk yang sama baiknya, bahkan lebih baik daripada yang dapat kita peroleh dari luar negeri. Dan saya pikir sangat penting sebagai sebuah bangsa untuk tidak selalu membeli dari luar negeri dan uangnya keluar dari Indonesia. Mengapa tidak berupaya agar uang tetap di sini dan memungkinkan ekosistem inovasi yang terbukti di masa depan dan dengan pendekatan yang didorong oleh kedaulatan?,’’ jelas dia. 
 
CYBR mengusung strategi “sovereignty first” atau pendekatan kedaulatan digital dengan mendorong penggunaan solusi buatan dalam negeri untuk perusahaan Indonesia. Strategi tersebut dinilai penting agar ekosistem inovasi dan nilai ekonomi tetap berputar di dalam negeri.
 
Di sektor keuangan, perusahaan juga melihat adopsi AI akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Namun, CYBR menilai penerapan AI harus dibarengi dengan sistem keamanan yang kuat agar tidak memunculkan risiko baru terkait perlindungan data dan kedaulatan informasi.
 
“Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan diadopsi, tetapi siapa yang lebih cepat, lebih aman, dan lebih efektif dalam mengimplementasikannya,” ujarnya.
 
Perseroan mengaku optimistis terhadap prospek bisnis sepanjang 2026 meskipun kondisi geopolitik global masih penuh tantangan. Menurut manajemen, kebutuhan terhadap keamanan siber justru cenderung meningkat di tengah ketidakpastian global.
 
CYBR menilai investasi yang telah dilakukan dalam riset dan pengembangan sejak beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil positif dan diharapkan menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
 
CYBR juga menyoroti tantangan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang dinilai memberi tekanan bagi perusahaan dengan ketergantungan impor tinggi. Namun, perseroan optimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.
 
Dia pun memastikan tetap terbuka terhadap berbagai peluang kemitraan strategis. Setelah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan teknologi dan lembaga pemerintah, perseroan mengisyaratkan kemungkinan adanya kolaborasi baru dalam waktu mendatang. Kemitraan menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas ekosistem teknologi nasional, memperkuat inovasi, dan menghadapi tantangan digital di Indonesia secara bersama-sama.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan