Ilustrasi. FOTO: MI/Andri Widiyanto
Ilustrasi. FOTO: MI/Andri Widiyanto

IHSG Pagi Merekah: 200 Saham Strong!

Angga Bratadharma • 12 Januari 2023 09:30
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis pagi terpantau menghijau sejalan dengan pergerakan bursa saham global, terutama Wall Street yang menguat menjelang laporan inflasi. Namun, para investor harus tetap bijak dalam berinvestasi dan jangan sampai berlebihan.
 
IHSG Kamis, 12 Januari 2023, perdagangan pagi dibuka menguat di level 6.584 dengan posisi tertinggi di 6.606 dan terendah di 6.582. Volume perdagangan pagi tercatat sebanyak 1,2 miliar lembar saham senilai Rp663 miliar. Sebanyak 200 saham menguat, sebanyak 168 saham melemah, dan sebanyak 165 saham stagnan.
 
Di sisi lain, saham-saham di Wall Street naik tajam pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB). Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing terangkat lebih dari satu persen karena investor optimistis menjelang laporan inflasi yang dapat memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk memutar kembali kenaikan suku bunga agresifnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 268,91 poin atau 0,80 persen menjadi 33.973,01. Indeks S&P 500 bertambah 50,36 poin atau 1,28 persen, menjadi 3.969,61. Indeks Komposit Nasdaq meningkat 189,04 poin atau 1,76 persen menjadi 10.931,67.
Baca: Investasi Kripto Diyakini Masih Tumbuh Meski Penuh Tantangan di 2023

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih tinggi, dengan sektor real estat dan konsumer non-primer masing-masing melonjak 3,6 persen dan 2,68 persen, memimpin kenaikan. Sementara Microsoft, Amazon.com dan saham-saham pertumbuhan mega-cap lainnya memberi S&P 500 dorongan terbesarnya.
 
Laporan yang banyak ditunggu-tunggu pada Kamis diproyeksikan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters untuk menunjukkan harga konsumen AS tumbuh 6,5 persen tahun-ke-tahun pada Desember, moderat dari kenaikan 7,1 persen pada November. Indeks acuan naik sejauh 2023 setelah turun tajam tahun lalu.
 
Harapan Fed dapat segera melonggarkan kembali pengetatan agresifnya setelah menaikkan suku bunga dana federal tujuh kali pada 2022 telah mendorong pasar dalam beberapa sesi terakhir, bahkan ketika komentar dari beberapa pejabat Fed telah mendukung pandangan bahwa bank sentral perlu tetap waspada tentang menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi.
 
"Investor mengantisipasi bahwa kita lebih dekat ke jeda daripada titik lain tahun lalu," pungkas Kepala Eksekutif Longbow Asset Management Jake Dollarhide, di Tulsa, Oklahoma.

 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif