Meski demikian, investor masih dibayangi sejumlah sentimen domestik yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar sepanjang hari.
Melansir Antara, Jumat, 12 Juni 2026, IHSG dibuka menguat 74,38 poin atau 1,26 persen ke level 5.960,27. Sementara indeks saham unggulan LQ45 naik 9,97 poin atau 1,70 persen ke posisi 596,81.
Wall Street jadi angin segar
Sentimen global menjadi salah satu pendorong utama penguatan IHSG pada awal perdagangan. Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan terakhir.Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,86 persen ke level 50.848,75. Sementara itu, S&P 500 menguat 1,75 persen menjadi 7.394,30 dan Nasdaq Composite melesat 2,54 persen ke posisi 25.809,66.
| Baca juga: Ketegangan Timur Tengah Meningkat, IHSG Diproyeksi Volatil Sepanjang Perdagangan |
Sentimen domestik masih jadi tantangan
Meski dibuka menguat, pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dari dalam negeri.Pada perdagangan sebelumnya, IHSG tertekan oleh kombinasi beberapa faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kontraksi penjualan ritel sebesar 3,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), hingga proyeksi defisit fiskal Indonesia yang masih berada di kisaran 2,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menurut Bank Dunia.
Di sisi lain, katalis positif seperti pembagian dividen, buyback emiten besar, dan efisiensi anggaran MBG belum mampu mengimbangi kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
Proyeksi IHSG hari ini
Secara teknikal, Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan pergerakan IHSG diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bergerak terbatas.Level support berada di area 5.728 hingga 5.653, sementara resistance berada pada rentang 5.960 hingga 6.000.
Apabila mampu bertahan di atas area 5.960, peluang IHSG untuk menguji level psikologis 6.000 akan semakin terbuka. Namun, jika tekanan jual kembali meningkat, indeks berpotensi bergerak menuju area support terdekat.
"Fokus pasar hari ini akan tertuju pada gelombang demonstrasi yang berlangsung terkait penolakan kenaikan harga bahan bakar dan isu ekonomi nasional, yang berpotensi meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset-aset domestik di tengah tekanan nilai tukar," jelas tim riset.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda