Ilustrasi. Foto: MI
Ilustrasi. Foto: MI

Ketegangan Timur Tengah Meningkat, IHSG Diproyeksi Volatil Sepanjang Perdagangan

Annisa ayu artanti • 11 Juni 2026 09:52
Ringkasnya gini..
  • IHSG dibuka melemah dan berpotensi bergerak volatil akibat meningkatnya tensi geopolitik global.
  • Konflik Iran dan risiko gangguan pasokan minyak dunia menjadi perhatian utama investor.
  • Pelaku pasar juga mencermati arah suku bunga global yang berpotensi tetap tinggi lebih lama.
Jakarta: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tantangan besar dari sentimen global. Pada perdagangan Kamis pagi, IHSG dibuka melemah 3,11 poin atau 0,05 persen ke level 5.899,27.
 
Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 justru bergerak positif dengan kenaikan 0,83 poin atau 0,14 persen ke posisi 590,31.
 
Meski pelemahannya relatif tipis, pelaku pasar diperkirakan akan menghadapi perdagangan yang cukup fluktuatif. 

Penyebab utamanya masih sama, yakni meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran investor global.
 
Baca juga: Bursa Saham Asia Melemah, IHSG Turun Signifikan ke 5391

Konflik Iran kembali bayangi pasar keuangan

"Sentimen pasar tetap didominasi perkembangan di Timur Tengah, setelah CENTCOM mengumumkan gelombang baru serangan terhadap Iran atas instruksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald ​​​​​​ Trump," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata, dilansir Antara, Kamis, 11 Juni 2026.
 
Dari mancanegara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memperingatkan bahwa Iran akan "membayar harga", apabila terus menunda kesepakatan damai, sementara Iran menegaskan akan membalas setiap ancaman maupun serangan yang diterimanya.
 
Konflik yang memasuki bulan keempat, kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
 
Ketidakpastian tetap tinggi karena Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia masih menjadi titik utama risiko energi global.
 
Selain itu, Trump juga mengklaim AS telah menjalankan "misi rahasia" untuk membantu lebih dari 200 kapal komersial melewati Selat Hormuz dan mengalirkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar global.
 
Namun demikian, klaim tersebut dibantah oleh Menteri Energi AS Chris Wright, yang mengaku tidak mengetahui operasi tersebut.
 
Dari kebijakan moneter, Bank of Canada mempertahankan suku bunga acuannya dan pasar terus mencermati kenaikan harga energi akibat perang Iran akan memaksa The Fed, Europan Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) akan mempertahankan kebijakan moneter lebih ketat lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.
 
Menurut CME FedWatch, pasar masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, yang akan menjadi FOMC pertama di bawah Ketua baru Kevin Warsh.
 
Namun, probabilitas kenaikan suku bunga 25 bps hingga akhir tahun meningkat ke sekitar 43 persen.
 
Adapun Yield US Treasury 10Y naik ke 4,55 persen, sementara yield 30Y kembali menembus 5 persen.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan