Berdasarkan data pasar Investing hingga pukul 09.16 WIB, kurs rupiah tercatat menyentuh level Rp17.490,1 atau melemah 85,1 poin setara 0,49 persen.
Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah penguatan dolar AS di pasar global.
Indeks Dolar AS tercatat naik 0,18 persen ke posisi 97,997, menunjukkan greenback masih bergerak solid di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
| Baca juga: Perdagangan Pagi, Rupiah Kembali Melemah ke Level Rp17.363/USD |
Selain terhadap dolar AS, rupiah melemah juga terlihat saat berhadapan dengan sejumlah mata uang utama Asia.
Yuan Tiongkok menguat dengan berada di level Rp2.573,71 atau naik 0,53 persen. Sementara yen Jepang diperdagangkan di kisaran Rp110,98 per yen dan baht Thailand berada di posisi Rp540,493 per baht.
Di kawasan Asia Tenggara, ringgit Malaysia turut mencatat penguatan terhadap rupiah. Nilai tukar Ringgit Malaysia tercatat mencapai Rp4.448,03 atau naik sekitar 0,30 persen.
Berbeda dengan mata uang lainnya, euro cenderung bergerak stabil dengan berada di level Rp20.508 tanpa perubahan berarti dibanding sesi perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah melemah juga dipengaruhi sentimen global, termasuk kenaikan harga emas dan tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga emas berjangka dilaporkan bergerak naik pada sesi perdagangan AS, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven.
Ketegangan memanas setelah pemerintah Iran menyampaikan respons resmi terkait proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
Dalam proposal tersebut, Iran meminta penghentian perang secara menyeluruh, pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz, serta kompensasi atas kerusakan akibat konflik.
Presiden Donald Trump menolak proposal tersebut dan menyebut isi tanggapan Iran “tidak dapat diterima.” Trump menegaskan bahwa Iran tetap tidak boleh memiliki senjata nuklir dan menilai proposal terbaru dari Teheran tidak membahas isu nuklir secara jelas.
Trump juga menilai gencatan senjata antara AS dan Iran masih berada dalam kondisi rapuh dan berisiko kembali memanas sewaktu-waktu.
Analis Macquarie, Thierry Wizman, menilai pemerintah AS kemungkinan lebih memilih tekanan ekonomi dibanding melanjutkan serangan militer langsung terhadap Iran.
Menurut Wizman, selama harga minyak dunia masih tinggi akibat ancaman gangguan distribusi di kawasan Teluk, dolar AS berpotensi tetap kuat. Kondisi tersebut dinilai memberi tekanan tambahan terhadap banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ia menambahkan, pelemahan dolar baru berpeluang terjadi apabila harga minyak kembali stabil dan tercapai kesepakatan damai jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News