Dalam proyeksi makroekonomi terbaru, Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang ditopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), konsumsi, pasar tenaga kerja, dan produktivitas. Kondisi tersebut membuat Federal Reserve (The Fed) diperkirakan tetap berfokus pada pengendalian inflasi.
DBS bahkan memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali hingga mencapai puncak 4,5 persen pada awal 2027. Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan suku bunga secara agresif belum menjadi skenario utama dalam prospek kebijakan moneter AS.
Tekanan suku bunga tinggi juga datang dari Eropa. Ketahanan ekonomi Zona Euro pada paruh pertama 2026 mendorong revisi moderat terhadap proyeksi pertumbuhan kawasan tersebut. Namun, risiko geopolitik dan harga energi yang masih tinggi membuat European Central Bank (ECB) diperkirakan mengambil langkah hati-hati.
ECB diproyeksikan kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Desember 2026 dan Maret 2027. Dengan demikian, kebijakan moneter ketat masih menjadi bagian penting dalam lanskap ekonomi global.
Di Jepang, arah kebijakan juga mulai bergeser. Peningkatan belanja fiskal dan rencana pemangkasan pajak konsumsi diperkirakan mendukung pertumbuhan ekonomi, meskipun meningkatkan risiko fiskal. Pada saat yang sama, Bank of Japan (BOJ) diperkirakan mempercepat normalisasi kebijakan moneternya.
Sementara itu, Asia menghadapi kondisi yang lebih beragam. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diproyeksikan mencapai 4,5 persen pada 2026, ditopang ekspor yang kuat dan siklus teknologi domestik. Namun, perlambatan permintaan domestik membuat prospek kebijakan suku bunga di kawasan tidak seragam.
Di pasar keuangan, tingginya kebutuhan pendanaan menjadi persoalan lain. Investasi AI yang membutuhkan belanja modal besar kini harus bersaing dengan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang juga menjalankan defisit anggaran besar.
Kondisi tersebut berpotensi menjaga imbal hasil obligasi di negara-negara maju tetap tinggi. Bank sentral yang masih cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat semakin memperkuat tekanan terhadap pasar obligasi.
Dalam kondisi tersebut, pasar kredit juga mulai mengalami perubahan. Peningkatan penerbitan obligasi oleh pemerintah dan perusahaan teknologi berskala besar atau hyperscaler mulai menantang persepsi tradisional mengenai keamanan kredit berperingkat tinggi.
Investor diperkirakan lebih selektif dalam memilih surat utang. Durasi 5–7 tahun menjadi salah satu pilihan, sementara penerbit berperingkat BBB dengan ketahanan keuangan kuat dinilai lebih menarik dibandingkan perusahaan berperingkat AA yang terus meningkatkan utang.
Di segmen high yield, perhatian juga bergeser ke obligasi berperingkat BBB/BB. Perusahaan siklikal dengan aset kuat, eksposur komoditas, arus kas solid, dan kemampuan mengurangi utang menjadi kelompok yang mendapat perhatian di tengah perbedaan kinerja antar-emiten yang semakin lebar.
Era suku bunga tinggi juga berdampak terhadap pasar saham. Di AS, siklus belanja modal AI masih menopang ekonomi dan laba perusahaan. Namun, investor mulai melakukan diversifikasi di luar sektor teknologi.
Sektor keuangan menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian seiring potensi pelonggaran regulasi dan meningkatnya aktivitas pasar modal. Di sisi lain, perusahaan yang mampu mengadopsi teknologi AI juga menjadi bagian dari strategi investasi untuk menangkap pertumbuhan produktivitas.
Tekanan Dolar AS
Di pasar valuta asing, posisi dolar AS menghadapi sejumlah tekanan. Pertumbuhan ekonomi di luar AS yang tetap tangguh mulai menantang narasi US exceptionalism. Namun, keunggulan imbal hasil dolar dan kenaikan harga energi menjadi faktor yang masih memberikan dukungan terhadap mata uang tersebut.Di Asia, renminbi atau RMB terus menguat didukung surplus perdagangan yang tinggi dan penjualan valuta asing oleh eksportir. Sementara itu, dolar Singapura juga memperoleh dukungan dari pertumbuhan ekonomi yang relatif tangguh dan inflasi yang masih tinggi.
Dalam lingkungan suku bunga tinggi dan ketidakpastian fiskal tersebut, emas kembali menjadi salah satu aset yang diperhatikan investor. Harga emas diperkirakan mulai pulih setelah mencapai titik terendah, ditopang permintaan Asia dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal.
Secara jangka panjang, emas juga dipandang sebagai instrumen diversifikasi. Alokasi sebesar 5–10 persen disebut berpotensi meningkatkan profil risiko dan imbal hasil portofolio, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi pasar dan komposisi aset masing-masing investor.
Sementara itu, komoditas tetap memiliki peran sebagai instrumen perlindungan terhadap inflasi dan diversifikasi. Energi memperoleh dukungan dari keterbatasan pasokan dan permintaan struktural, sedangkan tembaga dan aluminium memiliki prospek jangka panjang seiring kebutuhan investasi dan transisi teknologi.
Dengan demikian, lanskap investasi hingga 2027 diperkirakan masih akan diwarnai era suku bunga relatif tinggi. Inflasi, kebijakan bank sentral, kebutuhan pembiayaan AI, serta defisit fiskal menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar obligasi, saham, mata uang, dan komoditas.