Jakarta: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mendorong suku bunga rendah menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pekan ini. Trump menilai AS seharusnya memiliki biaya pinjaman paling rendah di dunia, terlepas dari kondisi inflasi dan perekonomian.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan saat menghadiri turnamen golf Irlandia Terbuka di Doonbeg, Irlandia, pada Minggu, 13 September 2026. Saat itu, Trump mengaku tidak mengetahui apakah para pengambil kebijakan The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan pekan ini.
Baca juga: Daftar 60 Negara Kena Tarif Trump, Indonesia Termasuk? |
Namun, Trump menegaskan bahwa AS harus membayar suku bunga terendah di dunia. Menurutnya, posisi AS sebagai negara dengan perekonomian besar dan peringkat kredit yang kuat seharusnya memberikan keuntungan lebih besar bagi negaranya.
“Saya tahu lebih banyak tentang formula dibandingkan siapa pun, dan dengan kredit terbaik di dunia, kita membuat negara lain kaya,” ujar Trump, dikutip dari Channel News Asia.
Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap arah kebijakan moneter AS. Data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga masih menjadi tantangan bagi bank sentral, sementara pemerintah Trump terus menghadapi dampak dari kebijakan tarif impor dan kenaikan harga energi.
Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat mencatat kenaikan terbesar dalam empat bulan. Perkembangan ini memperkuat perhatian pasar terhadap keputusan The Fed mengenai suku bunga acuan.
Adapun kisaran target suku bunga dana federal dalam naskah sumber disebut berada di level 3,5 persen hingga 3,75 persen. Keputusan mengenai arah suku bunga akan diambil dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dijadwalkan berakhir pada Rabu.
Tekanan inflasi menjadi persoalan penting bagi The Fed. Kenaikan pajak impor yang diberlakukan pemerintahan Trump serta melonjaknya harga energi akibat perang Iran berpotensi menambah beban biaya bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Sejumlah pejabat bank sentral AS khawatir inflasi yang bertahan tinggi dalam waktu lama dapat membuat proses pengendalian harga menjadi semakin sulit. Karena itu, keputusan suku bunga tidak hanya bergantung pada keinginan pemerintah, tetapi juga pada perkembangan data ekonomi.
Di sisi lain, pertemuan The Fed berlangsung beberapa pekan sebelum pemilihan paruh waktu di AS. Pemilu tersebut akan menentukan apakah Partai Republik mampu mempertahankan mayoritas tipisnya di kedua kamar Kongres.
Kebijakan suku bunga menjadi isu sensitif menjelang pemilu. Kenaikan biaya pinjaman dapat menambah tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama ketika harga kebutuhan sehari-hari masih menjadi perhatian pemilih.
Tingkat persetujuan terhadap Trump juga disebut menurun di tengah berlanjutnya tekanan inflasi. Meski demikian, Trump tetap berpendapat bahwa kebijakan suku bunga The Fed selama ini lebih banyak menguntungkan negara lain daripada AS.
Trump menilai suku bunga yang berlaku di AS telah membuat negara-negara lain memperoleh manfaat dari kekuatan ekonomi Amerika. Ia pun terus mendorong kebijakan yang dianggapnya dapat menurunkan biaya pinjaman dan memperkuat posisi ekonomi AS.
Sikap Trump terhadap The Fed sebelumnya kerap diwarnai kritik terhadap mantan Ketua The Fed Jay Powell. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, Trump disebut lebih mendukung kepemimpinan bank sentral setelah Kevin Warsh, yang dipilihnya, mengambil alih jabatan ketua The Fed pada awal tahun ini.
Suku Bunga dan Perang Dagang
Meski begitu, dukungan tersebut tidak berarti Trump berhenti menyampaikan tuntutan terkait kebijakan suku bunga. Sekitar dua pekan lalu, ia bahkan mengeluarkan pernyataan bernada ancaman melalui media sosial.
“Turunkan biaya atau saya akan berhenti berdagang dengan negara yang mengalami defisit dengan kita,” tulis Trump dalam unggahannya.
Trump kembali menegaskan sikap tersebut kepada wartawan pada Minggu malam sebelum bertolak kembali ke AS. Ia mengatakan pemerintahannya tidak ingin negara-negara lain terus mencatatkan surplus perdagangan terhadap AS.
“Kami tidak ingin negara-negara mengalami defisit. Kami ingin mengalami surplus atau setidaknya titik impas,” ujar Trump.
Sementara itu, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett mengatakan Trump akan tetap membela independensi Kevin Warsh, apa pun keputusan The Fed terkait suku bunga.
Namun, Hassett juga mengakui bahwa Trump kemungkinan tidak akan senang apabila bank sentral AS memutuskan menaikkan suku bunga. Pernyataan ini menunjukkan bahwa perdebatan mengenai suku bunga AS masih akan menjadi perhatian, terutama di tengah tarik-menarik antara kepentingan ekonomi, tekanan inflasi, dan tuntutan politik.