IHSG memerah. Foto: MI.
IHSG memerah. Foto: MI.

Pembukaan Perdagangan, IHSG Sudah Turun 2,72%

Arif Wicaksono • 18 Mei 2026 09:41
Ringkasnya gini..
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu yang mengalami pelemahan terdalam di kawasan. Berdasarkan data perdagangan Senin pagi, 18 Mei 2026, IHSG turun 182,98 poin atau 2,72% ke level 6.540,34.
  • Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 dan IDX30. LQ45 melemah 2,94 persen. Kemudian IDX30 juga melemah 2,48 persen.
Jakarta: Pergerakan pasar saham Asia pada perdagangan pagi menunjukkan arah yang bervariasi. Sejumlah indeks utama mengalami tekanan, sementara beberapa bursa masih mampu bertahan di zona hijau.
 
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu yang mengalami pelemahan terdalam di kawasan. Berdasarkan data perdagangan Senin pagi, 18 Mei 2026, IHSG turun 182,98 poin atau 2,72% ke level 6.540,34.
 
Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 dan IDX30. LQ45 melemah 2,94 persen. Kemudian IDX30 juga melemah 2,48 persen.
 
Baca juga:  IHSG Hari Ini Dibuka Melemah, Investor Dibayangi Sentimen MSCI dan Rupiah

Saham AMMN, MDKA, BREN, INCO, dan MBMA masuk deretan top losers pada pembukaan perdagangan hari ini. 

Pada akhir pekan lalu dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 1,98 persen ke level 6.723,32. 
Sektor bahan baku menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 4,43 persen. Sebaliknya, sektor transportasi justru mencatat penguatan tertinggi hingga 4,89 persen.
 
Tekanan juga terjadi di sejumlah bursa besar Asia lainnya. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,41% ke posisi 25.595,50, disusul Nikkei 225 Jepang yang turun 1,01% menjadi 60.789,50.
 
Pasar saham Thailand juga berada di zona merah dengan indeks SET turun 1,38% ke level 1.517,95. Sementara itu, indeks PSEi Composite Filipina terkoreksi 0,57%, dan bursa Vietnam melemah 0,37%.
 
Di sisi lain, pasar saham China masih mampu mencatatkan penguatan tipis. Indeks Shanghai Composite naik 0,05% ke level 4.137,49. Bursa Korea Selatan juga tampil positif dengan indeks KOSPI melonjak 1,71%.
 
Pelemahan mayoritas bursa Asia terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tekanan ekonomi global, penguatan dolar AS, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia.
 
Analis menilai volatilitas pasar masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek, terutama setelah tekanan jual meningkat di sejumlah aset berisiko di kawasan Asia.

Wall Street 

Mayoritas pasar saham global ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026 waktu setempat. 
 
Tekanan datang dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS), pelemahan saham teknologi, serta minimnya terobosan kebijakan dari pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
 
Pada akhir pekan lalu Wall Street kompak terkoreksi. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 537,3 poin atau 1,07 persen ke level 49.526. Sementara Nasdaq anjlok 1,54 persen dan S&P 500 melemah 1,24 persen.
 
Koreksi saham teknologi menjadi salah satu pemicu utama pelemahan pasar AS. Di sisi lain, lonjakan yield obligasi pemerintah AS memicu kekhawatiran investor terhadap arah suku bunga global.
 
Yield obligasi AS tenor 10 tahun naik hingga 4,595 persen, sedangkan tenor 30 tahun menembus level 5,128 persen. Kenaikan ini mendorong indeks volatilitas VIX melonjak 6,78 persen ke level 18,43.
 
Sentimen negatif juga menjalar ke pasar Eropa. Indeks FTSE Inggris turun 1,71 persen, DAX Jerman merosot 2,07 persen, dan CAC Prancis melemah 1,60 persen.
 
Bursa Asia turut tertekan. Indeks Nikkei Jepang jatuh hampir 2 persen, Hang Seng Hong Kong turun 1,62 persen, sedangkan Shanghai Composite melemah 1,02 persen.

Harga minyak Dunia Naik 

Harga minyak dunia kembali melonjak tajam di tengah kekhawatiran pasokan energi global. Minyak mentah WTI naik 4,2 persen ke USD105,42 per barel, sedangkan Brent naik 3,35 persen ke USD109,26 per barel.
 
Kenaikan harga energi turut mendorong penguatan harga batu bara Newcastle untuk kontrak Mei hingga Agustus 2026. Di sisi lain, harga emas justru mengalami koreksi cukup dalam. Emas Comex turun 2,63 persen, sedangkan harga spot emas dunia melemah 2,41 persen.
 
Tekanan juga terjadi pada sejumlah komoditas logam. Harga timah turun lebih dari 4 persen, nikel melemah 2,3 persen, dan aluminium terkoreksi 2,44 persen. Sementara itu, harga tembaga masih menguat 2,38 persen seiring optimisme permintaan industri global.
 
Dari sektor agrikomoditas, harga crude palm oil (CPO) kontrak Juli di Bursa Malaysia menguat tipis 0,45 persen. Namun harga gandum dan jagung mengalami pelemahan masing-masing 3,38 persen dan 2,51 persen.
 
Pelaku pasar saat ini masih mencermati arah kebijakan suku bunga global, pergerakan dolar AS, serta perkembangan hubungan dagang AS-China yang dinilai masih belum memberikan kepastian baru bagi pasar keuangan dunia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan