Meski meningkat, rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap berada pada level yang relatif aman, yakni 29,6 persen. BI menilai kondisi ini menunjukkan pengelolaan utang luar negeri Indonesia masih berada dalam koridor yang sehat.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan kenaikan ULN terutama didorong oleh pertumbuhan utang sektor publik, sementara utang luar negeri sektor swasta masih mengalami kontraksi.
| Baca juga: Hore! Utang Luar Negeri Indonesia Akhirnya Turun |
Pada April 2026, posisi ULN pemerintah tercatat sebesar USD216,4 miliar atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,8 persen pada Maret 2026. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan pinjaman luar negeri pemerintah yang tidak secepat periode sebelumnya.
Di sisi lain, minat investor asing terhadap instrumen keuangan domestik masih terjaga. Hal ini tercermin dari aliran modal masuk (net inflow) ke pasar Surat Berharga Negara (SBN), yang menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap kuat.
Pemerintah terus mengarahkan pemanfaatan utang luar negeri untuk mendukung berbagai sektor produktif sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal. Dana yang diperoleh melalui pembiayaan eksternal tersebut banyak digunakan untuk sektor kesehatan dan kegiatan sosial yang menyerap sekitar 22 persen dari total ULN pemerintah.
Selain itu, dana utang juga dialokasikan untuk sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,5 persen, sektor pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen.
Struktur utang pemerintah masih didominasi oleh pinjaman jangka panjang yang porsinya mencapai hampir 100 persen dari total ULN pemerintah.
Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$193,2 miliar. Secara tahunan, angka tersebut masih mengalami kontraksi 0,7 persen, meski lebih baik dibandingkan penurunan 1,4 persen yang terjadi pada Maret 2026.
Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh kelompok lembaga keuangan yang mencatat kontraksi lebih rendah. Jika pada Maret penurunan mencapai 6,3 persen, pada April kontraksinya menyempit menjadi 5,0 persen.
Dilihat dari sektornya, utang luar negeri swasta paling banyak berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan. Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 79,6 persen dari total ULN swasta.
Sama seperti pemerintah, struktur utang swasta juga masih didominasi pinjaman jangka panjang dengan porsi mencapai 75,8 persen. Secara keseluruhan, komposisi utang luar negeri Indonesia masih didominasi oleh utang berjangka panjang yang mencapai 84,5 persen dari total ULN nasional.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam memantau perkembangan utang luar negeri guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurut Ramdan, pemanfaatan ULN akan terus dioptimalkan sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan, namun tetap disertai upaya mitigasi risiko agar tidak mengganggu ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda