Mata uang rupiah. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Mata uang rupiah. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Ini Nih yang Bikin Rupiah Jeblok.. dari Penguatan Dolar AS hingga Lesunya Minat Investor Asing di RI

M Ilham Ramadhan • 28 September 2022 13:54
Jakarta: Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menimbulkan masalah bagi pasar uang di negara-negara lain. Indonesia misalnya, selain rupiah yang terdepresiasi, penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut turut menggerus minat investor asing di pasar obligasi.
 
"Yang jadi titik permasalahan, dolar AS makin kuat, maka investasi pasar portofolio terjadi penyesuaian. Orang ingin memegang aset aman, jadi berbalik ke aset tersebut," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman dalam diskusi publik bertajuk Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, Rabu, 28 September 2022.
 
Penguatan dolar AS itu tak luput dari kebijakan The Federal Reserve yang secara agresif menaikkan tingkat bunga acuannya. Hal tersebut turut membuat imbal hasil surat berharga AS, US Treasury (UST) naik di kisaran 3,7 persen hingga 3,9 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tingginya imbal hasil yang ditawarkan UST itu menjadi daya tarik bagi penanam modal di pasar keuangan. Investasi portofolio yang ada di negara-negara berkembang kemudian dialihkan ke UST lantaran return yang dikembalikan jauh lebih menarik.
 
Itu dikonfirmasi oleh data BI. Pada 20 September 2022, misalnya, aliran modal keluar (capital outflow) dari Indonesia tercatat mencapai USD0,6 miliar. Sedangkan posisi cadangan devisa Indonesia hingga akhir Agustus 2022 berada di level USD132,2 miliar.
 
Baca juga: Rontok ke Rp15.177/USD, Apa Salah dan Dosa Rupiah, Terus-terusan Turun?

 
Posisi cadangan devisa itu setara dengan 6,1 bulan impor atau enam bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah. Kondisi cadangan devisa itu masih tergolong aman lantaran berada di atas standar kecukupan internasional, yakni tiga bulan impor.
 
"AS akan terus melanjutkan peningkatan Fed Funds Rate (FFR), dan ini masih berlangsung tinggi sampai 2023. Kita kenal istilah higher for longer yang menimbulkan ketidakpastian global dan pasar keuangan," jelas Aida.
 
Menurunnya minat investor asing pada Surat Utang Negara (SUN) juga tercermin dari perolehan dana yang diterima pemerintah dalam pelelangan tujuh obligasi pada Selasa, 27 September 2022. Dari tujuh SUN yang dilelang, pemerintah meraup Rp10,75 triliun, berada di bawah target indikatif yang dipatok sebelumnya di angka Rp19 triliun.
 
Partisipasi investor asing di pasar perdana melakukan penawaran sebesar Rp1,7 triliun. Minat investor asing mayoritas pada seri SUN tenor 11 tahun yaitu Rp919 miliar atau 54,06 persen dari total incoming bids investor asing dan dimenangkan sebesar Rp196 miliar atau 1,83 persen dari total awarded bids.

 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif