Rupiah. Foto: MI.
Rupiah. Foto: MI.

Dolar AS Menguat ke Rp17.403, Rupiah Terkapar di Perdagangan Pagi

Arif Wicaksono • 11 Mei 2026 09:29
Ringkasnya gini..
  • Berdasarkan data pasar uang pukul 09.20 WIB dari investing, kurs rupiah berada di level Rp17.403,4 per USD atau naik 63,4 poin setara 0,37 persen.
  • Penguatan dolar AS juga tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) yang naik 0,14 persen ke posisi 97,920.
Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari. 
 
Berdasarkan data pasar uang pukul 09.20 WIB dari investing, kurs rupiah berada di level Rp17.403,4 per USD atau naik 63,4 poin setara 0,37 persen.
 
Penguatan dolar AS juga tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) yang naik 0,14 persen ke posisi 97,920. Kenaikan indeks dolar menunjukkan mata uang Negeri Paman Sam itu masih dominan terhadap sejumlah mata uang global.
 
Baca juga:  Perdagangan Pagi, Rupiah Kembali Melemah ke Level Rp17.363/USD

Dolar AS mendapat dukungan dari laporan pekerjaan AS yang dirilis Jumat lalu yang menunjukkan peningkatan lapangan kerja non-pertanian sebesar 115 ribu pada April, hampir dua kali lebih cepat dari yang diperkirakan. 

Angka-angka tersebut memperkuat ekspektasi Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tidak berubah untuk beberapa waktu.
 
Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga melemah terhadap yuan Tiongkok. Kurs CNY/IDR tercatat naik 0,28 persen ke level Rp2.560,67.
 
Sementara itu, pergerakan rupiah terhadap mata uang regional lainnya cenderung bervariasi. Ringgit Malaysia menguat tipis terhadap rupiah dengan naik 0,09 persen ke posisi Rp4.432,65.
 
Di sisi lain, rupiah masih mampu menguat terhadap beberapa mata uang utama Asia dan Eropa. Yen Jepang tercatat melemah 0,06 persen ke level Rp110,77 per yen, sedangkan euro turun 0,21 persen ke posisi Rp20.424,0. Baht Thailand juga melemah terhadap rupiah dengan  turun 0,35 persen ke level Rp537,316.
 
Pelaku pasar saat ini masih mencermati arah kebijakan suku bunga global dan pergerakan dolar AS yang memengaruhi volatilitas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
 
Presiden AS Donald Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal AS untuk pembicaraan perdamaian, yang menghancurkan harapan akan segera berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu tersebut. Trump menyebut respons Iran sebagai hal yang sama sekali tidak dapat diterima.
 
Melalui mediator Pakistan, Iran menanggapi proposal perdamaian tersebut dengan menuntut pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, dan pengakuan atas hak Iran untuk melanjutkan beberapa aktivitas nuklir.
Wall Street Journal melaporkan Iran mengusulkan untuk mengurangi sebagian uranium yang diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga. 
 
Kondisi ini membuat harga minyak dunia melonjak saat perdagangan dilanjutkan pada Senin, dengan minyak mentah Brent naik sebanyak 3,3 persen menjadi USD104,65 per barel.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan