Seorang pekerja melintas di depan Gedung Manulife. Foto: Istimewa.
Seorang pekerja melintas di depan Gedung Manulife. Foto: Istimewa.

Manulife Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Ekonomi manulife aset manajemen indonesia Manulife
Ade Hapsari Lestarini • 20 Mei 2020 08:27
Jakarta: Melemahnya pasar global membuat ekonomi Indonesia 2019 hanya tumbuh 5,02 persen. Melemah tipis dibanding 2018 yakni 5,17 persen. Imbasnya, kinerja industri asuransi jiwa 2019 juga mengalami stagnasi.
 
Namun demikian, di tengah tantangan yang dihadapi pada tahun lalu, PT Manulife Indonesia tetap mencatat imbal hasil investasi yang sehat. Hal ini menunjukkan keunggulan dari keragaman bisnis Manulife.
 
"Posisi keuangan yang solid menunjukkan kekuatan kunci atas distribusi perseroan yang beragam, dukungan tim agency yang berkualitas tinggi, kemitraan distribusi yang mapan, serta bisnis dana pensiun dan manajemen aset yang kuat," tuturPresiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia Ryan Charland dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


?Sebagaimana diketahui, pada akhir 2019 ekuitas Manulife tercatat tumbuh sebesar 25 persen menjadi Rp14,4 triliun. Jumlah premi bisnis baru di 2019 tumbuh sebesar tujuh persen dari Rp3,5 triliun menjadi Rp3,8 triliun. Bahkan, penjualan produk investasi meningkat 20 persen menjadi Rp2 triliun. Sedangkan, aset yang dikelola Manulife tumbuh sebesar sembilan persen menjadi Rp72 triliun di 2019.
 
Manulife Indonesia membukukan pendapatan bersih sebesar Rp12,7 triliun atau naik 11,4 persen dari 2018. Sedangkan, pendapatan bersih investasi 2019 tercatat sebesar Rp3,1 triliun atau lebih tinggi dibandingkan 2018 yang sebesar Rp1 triliun.
 
Sementara ituManulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) juga memperlihatkan kinerja yang kuat di 2019. Presiden Direktur MAMI Legowo Kusumonegoro mengatakan dana kelolaan MAMI meningkat 10 persen menjadi Rp74,8 triliun. Hanya dalam waktu setahun, lebih dari 90.900 investor baru telah menaruh kepercayaannya pada MAMI.
 
Ryan menambahkan pada 2019 Manulife menerapkan program baru dengan menjadikan Kaizen sebagai program untuk mengubah budaya dan cara bekerja mereka.
 
Asuransi Jiwa dan Covid-19
 
Di awal 2020, industri asuransi jiwa mendapatkan tantangan yang kian berat akibat pandemi covid-19. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebutkan pertumbuhan industri asuransi jiwa pada Maret 2019 terkoreksi minus 13,8 persen year on year, lebih rendah dari data Desember 2019 yakni minus 0,38 persen.
 
Sedangkan, rasio solvabilitas (Risk Based Capital/RBC) industri asuransi jiwa masih jauh di atas batas minimal yakni 120 persen. Data OJK menunjukkan, RBC asuransi jiwa per Maret 2020 sebesar 642,7 persen, lebih rendah dibandingkan posisi Desember 2019 yang sebesar 789 persen.
 
Di tengah pencapaian kinerja 2019 yang terkoreksi dan terpaan covid-19, industri asuransi jiwa tetap berkomitmen melayani nasabah sesuai polis mereka. Manulife Indonesia misalnya, hingga 8 Mei 2020 telah membayarkan klaim khusus covid-19 sebesar Rp4,6 miliar. Sedangkan, pembayaran klaim asuransi, nilai tunai penyerahan polis, anuitas, dan manfaat yang dibayarkan Manulife pada 2019 sebesar Rp5,8 triliun.
 
Jumlah tersebut sama dengan Rp16 miliar per hari atau Rp664 juta per jam. Manulife juga meraih predikat sangat bagus atas kinerja keuangan 2018, kategori perusahaan asuransi jiwa berpremi bruto Rp5 triliun ke atas.
 
Sementara itu, PT Astra Aviva Life (Astra Life) telah membayar klaim lebih dari Rp 1,5 miliar kepada nasabah yang terindikasi covid-19 hingga 23 April 2020. PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia telah membayarkan klaim nasabah yang terindikasi covid-19 hingga Rp1,8 miliar.
 
Pengamat asuransi Maryoso Sumaryono mengatakan pandemi covid-19 ini benar-benar telah menjadi krisis multi dimensi yang menghantam berbagai sektor, termasuk industri asuransi jiwa. Ia memprediksi pertumbuhan premi industri asuransi jiwa hingga akhir tahun nanti akan negatif sekitar 10-20 persen.
 
Hal ini terjadi karena pandemi covid-19 membuat orang kehilangan pendapatan sehingga daya beli tak ada. Sekalipun demikian, ia yakin asuransi jiwa merupakan pilihan utama masyarakat karena menjadi kebutuhan orang saat ini.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif