Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) justru ikut melemah tipis 0,07 persen ke level 98,297 pada awal perdagangan Senin 27 April 2026. Kondisi ini menunjukkan pelemahan rupiah tidak sepenuhnya dipicu faktor eksternal, melainkan lebih banyak dipengaruhi tekanan domestik.
| Baca juga: Rupiah Bangkit Lagi! Pagi Ini Menguat Jadi Rp17.280/USD |
Hal tersebut tercermin dari meningkatnya indikator risiko Indonesia. Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun melonjak 7,68 persen ke level 88,96, menandakan kenaikan premi risiko investasi pada surat utang Indonesia. Di sisi lain, imbal hasil (yield) Surat Utang Negara tenor 10 tahun juga naik ke level 6,7488 persen.
Menariknya, di saat rupiah melemah, pasar saham domestik justru bergerak positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 7.182 pada perdagangan Senin, 27 April 2026.
Penguatan IHSG turut diikuti indeks saham utama lainnya, di mana LQ45 naik 0,33 persen ke level 692, sementara Jakarta Islamic Index (JII) juga menguat ke level 487.
Sejumlah saham menjadi penopang utama kenaikan IHSG, di antaranya INCO, BRPT, BREN, NCKL, SCMA, MBMA, hingga AMMN yang tercatat aktif menopang indeks. Kombinasi antara rupiah melemah dan kenaikan CDS menunjukkan adanya kehati-hatian investor terhadap risiko domestik, meski sentimen di pasar saham masih cukup resilien pada awal pekan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News