Ilustrasi rupiah. Foto: MI/Susanto
Ilustrasi rupiah. Foto: MI/Susanto

Dolar AS Makin Galak, Rupiah Tembus Rp17.408

Annisa ayu artanti • 05 Mei 2026 09:26
Ringkasnya gini..
  • Rupiah makin melemah ke Rp17.408 per USD per 5 Mei 2026 pagi akibat eskalasi geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah.
  • Serangan drone Ukraina ke kilang minyak Rusia memicu kekhawatiran krisis pasokan yang mengerek harga minyak dan inflasi global.
  • Ketegangan di Selat Hormuz dan potensi kenaikan suku bunga bank sentral membuat investor lebih memilih memegang dolar AS.
Jakarta: Kabar kurang sedap kembali datang dari pasar valuta asing pagi ini. Rupiah pagi ini terperosok dalam terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). 
 
Eskalasi konflik di belahan dunia lain ternyata memberikan efek domino yang cukup terasa sampai ke kantong kita di tanah air.
 
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa, 5 Mei 2026 pukul 09.16 WIB, mata uang Garuda pagi ini sudah berada di posisi Rp17.408 per USD. 

Angka ini menunjukkan pelemahan dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.394 per dolar AS.
 
Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Faktor eksternal, terutama dari gejolak politik internasional, menjadi faktor utama yang menekan posisi rupiah.
 
Baca juga: Makin Melemah, Rupiah Tertekan ke Rp17.355/USD

Drone Ukraina bakar kilang minyak Rusia

Sebelumnya, melansir Antara, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia.
 
“Yang menyebabkan rupiah melemah ini masih dari eksternal, dimana di Eropa Timur, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah minyak di Rusia dan kita lihat bahwa kilang-kilang minyak di Rusia banyak yang terkena drone dari Ukraina,” ucapnya.
 
Mengutip Xinhua, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan serangan Kiev terhadap infrastruktur minyak Rusia dapat memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut.
 
Pengurangan pasokan minyak Rusia ke pasar global disebut akan memicu kenaikan harga yang lebih tajam.
 
Kementerian Pertahanan Rusia menyampaikan bahwa sistem pertahanan udaranya telah menembak jatuh 740 drone Ukraina di garis depan dalam 24 jam terakhir per hari Minggu, 3 Mei 2026.
 
“Jadi, Ukraina rupanya lebih banyak lagi mengirim drone-drone secara jarak jauh yang mengakibatkan kondisi di wilayah Rusia, terutama adalah kilang-kilang minyak ini mengalami kebakaran yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga minyak mengalami kenaikan,” ungkap Ibrahim.
 
Sentimen lain dari isu geopolitik di Timur Tengah, terkait ucapan Presiden AS Donald Trump bahwa AS akan mulai mengawal kapal-kapal asing netral keluar dari Selat Hormuz yang digambarkan sebagai isyarat kemanusiaan terhadap negara-negara yang terjebak dalam konflik yang tak mereka ikuti.
 
Walaupun Trump berniat membebaskan Selat Hormuz dari Iran, di sisi lain Iran sudah siap untuk melakukan perang panjang, sehingga konflik ini menciptakan ketegangan yang cukup masif.
 
“Di sisi lain pun juga kenaikan harga minyak mentah ini berdampak terhadap inflasi yang tinggi, sehingga bank sentral dalam pertemuan di bulan Mei ini kemungkinan besar kalau seandainya harga minyak masih tetap di atas 100, kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga. Ini yang membuat dolar kembali mengalami penguatan,” ujar dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan