Pada pembukaan perdagangan hari ini mata uang Rupiah sudah melemah ke Rp17.355 atau 0,30 persen dikutip dari Investing.com. Dalam setahun rupiah sudah melemah sebanyak 5,53 persen.
| Baca juga: Rupiah Tertekan ke Rp17.308/USD, Pasar Cermati Risiko Geopolitik dan Arah Dolar |
Sementara itu Dollar Index sudah melemah 1,81 persen dalam setahun dengan berada pada level 98.047. Pada pembukaan hari ini dolar index naik 0,04 persen ke posisi 98.047.
Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak naik ke level sekitar 6,86%, mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan stabilitas nilai tukar menjadi faktor kunci dalam menjaga daya tarik aset keuangan domestik.
Bagi investor asing, volatilitas rupiah merupakan salah satu risiko utama yang memengaruhi keputusan investasi. Ketika fluktuasi kurs meningkat, potensi keuntungan dari aset rupiah dapat tergerus, sehingga mendorong investor untuk mencari pasar dengan risiko yang lebih terukur.
Bank Indonesia sendiri telah mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai salah satu alat utama untuk menjaga stabilitas pasar.
Dengan outstanding yang mendekati Rp885 triliun dan imbal hasil tenor 12 bulan di kisaran 6,22%, SRBI menawarkan daya tarik dari sisi carry trade bagi investor. Instrumen ini diharapkan mampu menyerap likuiditas sekaligus memberikan insentif bagi investor untuk tetap bertahan di aset rupiah.
Namun demikian, pertanyaan yang muncul adalah apakah peningkatan imbal hasil semata cukup untuk mengembalikan kepercayaan pasar ?
Dalam perdagangan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sekitar 2% ke level 6.957, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Tekanan tersebut tidak lepas dari aksi jual investor asing yang masih berlanjut. Tercatat, investor global membukukan net sell di pasar reguler sekitar Rp1,7 triliun, dengan tekanan terbesar terjadi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor yang selama ini menjadi tulang punggung pasar justru menjadi sumber likuiditas bagi investor asing yang memilih keluar.
Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, investor tidak hanya mempertimbangkan tingkat imbal hasil, tetapi juga konsistensi kebijakan dan arah ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, faktor non-yield seperti kredibilitas kebijakan dan stabilitas makro menjadi semakin penting.
Selain itu, koordinasi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal juga akan menjadi sorotan.
Pasar cenderung menunggu sinyal yang lebih kuat, baik dari sisi kebijakan fiskal maupun narasi ekonomi yang mampu meyakinkan investor bahwa risiko dapat dikelola dengan baik. Tanpa dukungan tersebut, tekanan terhadap rupiah dan aset keuangan domestik berpotensi berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News