IHSG. Foto: MI.
IHSG. Foto: MI.

Mengikuti Jejak Bursa AS, IHSG Melonjak di Awal Perdagangan

Arif Wicaksono • 18 Februari 2026 09:33
Ringkasnya gini..
  • IHSG naik 1,03 persen pada posisi 8.291 pembukaan Rabu, 18 Februari 2025. IHSG ditopang Indeks unggulan seperti LQ45 dan JII. LQ45 naik 0,98 persen
  • Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,07% ke posisi 49.533, sementara Nasdaq Composite naik 0,14% ke 22.578. Meski ditopang penguatan sejumlah saham teknologi besar, tekanan pada emiten perangkat lunak membuat reli pasar tidak berkembang signifikan.
Jakarta: Indeks Harga Saham Unggulan (IHSG) bangkit pada hari pertama sehari setelah perayaan hari raya imlek. 
 
IHSG naik 1,03 persen pada posisi 8.291 pembukaan Rabu, 18 Februari 2025. IHSG ditopang Indeks unggulan seperti LQ45 dan JII. LQ45 naik 0,98 persen. JII naik 0, 33 persen. Saham BBCA, BBRI, BMRI, ASII, TLKM, dan UNVR mendorong kenaikan IHSG. 
 

Pada akhir pekan lalu IHSG ditutup stagnan di level 8.212,27.  Pergerakan sektoral juga cenderung mendatar, termasuk sektor energi, bahan baku, industri, keuangan, hingga perbankan.
 
Nilai tukar rupiah berada di level Rp16.837 per dolar AS, melemah tipis 0,08%. Kurs referensi Jisdor tercatat di Rp16.844 per dolar AS.

Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di level 6,3998%.  Sementara premi risiko Indonesia yang tercermin dari CDS 5 tahun berada di kisaran 81,65 basis poin.

Laju Wall Street dan Bursa Global 

Bursa saham Amerika Serikat ditutup nyaris tak bergerak pada perdagangan Selasa waktu setempat.  Indeks acuan S&P 500 hanya naik tipis 0,10% ke level 6.843, tertahan oleh pelemahan saham-saham sektor software yang membatasi ruang penguatan.
 
Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,07% ke posisi 49.533, sementara Nasdaq Composite naik 0,14% ke 22.578. 
 
Meski ditopang penguatan sejumlah saham teknologi besar, tekanan pada emiten perangkat lunak membuat reli pasar tidak berkembang signifikan.
 
Volatilitas pasar terpantau mereda. Indeks ketakutan CBOE. Volatility Index (VIX) turun 4,29% ke level 20,29,  mencerminkan sentimen risiko yang relatif terkendali di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek dan menengah.
 
Imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun naik ke 3,437%, tenor 5 tahun ke 3,625%, dan tenor 10 tahun ke 4,059%. Sementara tenor 30 tahun sedikit turun ke 4,691%. Kenaikan yield jangka pendek mengindikasikan pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
 
Dari sisi mata uang, indeks dolar AS menguat 0,22% ke 97,13, sementara euro relatif stabil di kisaran 1,1853 dolar AS.Pergerakan positif juga terlihat di Eropa. Indeks FTSE 100 melonjak 0,79% ke 10.566. Di Jerman, DAX naik 0,80% ke 24.998, sedangkan CAC 40 Prancis menguat 0,54% ke 8.362.
 
Sebaliknya, pasar Asia bergerak lebih variatif. Indeks Nikkei 225 di Jepang terkoreksi 0,42% ke 56.565. Sementara indeks Hong Kong dan Shanghai ditutup relatif datar.

Harga Komoditas Terkoreksi Tajam

Dari pasar komoditas, harga minyak mentah terkoreksi signifikan. Minyak WTI turun 2,63% ke USD62,92 per barel, sedangkan Brent melemah 2,89% ke USD67,59 per barel.
 
Harga emas juga tertekan. Emas Comex turun 2,26% ke 4.899,60, sementara emas spot (XAU/USD) melemah 2,24% ke 4.880,05. 
 
Penurunan juga terjadi pada perak yang anjlok 3,90%, serta tembaga dan nikel yang terkoreksi masing-masing 1,42% dan 1,59%.
 
Harga gas alam mencatat pelemahan paling dalam, turun 5,98% ke level 3,049. Di sisi lain, bijih besi 62% Fe relatif stabil di kisaran 99,74.
 
Secara keseluruhan, pasar global bergerak hati-hati di tengah kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta koreksi harga komoditas. Investor kini menanti katalis baru yang dapat menggerakkan pasar lebih signifikan dalam beberapa hari ke depan. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan