IHSG melemah 8222 atau 0,57 persen pada pembukaan perdagangan Jumat, 13 Februari 2025.
Indeks unggulan seperti LQ45 dan JII juga melemah. LQ45 melemah 0,86 persen dan JII melemah 0,71 persen.
|
Baca juga: IHSG Melesat ke Level 8302
|
Saham-saham bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, ASII, TLKM dan ANTM melemah pada pembukaan perdagangan hari ini.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto menuturkan menyusul penguatan signifikan selama tiga hari berturut-turut, IHSG kemarin terkoreksi 0,3% ke level 8.265,4,
Hal ini seiring pelemahan Rupiah ke sekitar 16.818 per dolar AS dan stabilnya yield SBN 10 tahun di kisaran 6,44%.
Investor asing di pasar saham kembali mencatatkan net sell yang sangat besar, dengan jual bersih di pasar reguler sekitar Rp2 triliun, sementara BBCA kembali menjadi salah satu target utama dengan net sell asing sekitar Rp890 miliar.
Sentimen negatif terkait potensi penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI dan pemangkasan outlook peringkat utang Indonesia.
Bursa Global
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada Jumat, 13 Februari 2026 WIB. Kekhawatiran investor terhadap dampak negatif ekspansi kecerdasan buatan (AI) memicu aksi jual besar-besaran, terutama di saham-saham teknologi.Indeks Dow Jones Industrial Average ambles 669,5 poin atau 1,34 persen ke level 49.452. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 1,57 persen ke 6.833, menandai penurunan selama tiga hari berturut-turut. Tekanan lebih dalam terjadi pada Nasdaq Composite yang merosot 2,04 persen ke 22.597.
Pelaku pasar mulai mencermati sisi gelap dari gelombang investasi besar-besaran di sektor AI. Selain berpotensi mengubah model bisnis berbagai industri, adopsi AI secara agresif juga dikhawatirkan meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor.
Sentimen negatif dari Wall Street turut menjalar ke bursa global. Di Eropa, FTSE 100 turun 0,67 persen, sementara DAX relatif stagnan dengan pelemahan tipis 0,01 persen. Berbeda arah, CAC 40 justru menguat 0,33 persen.
Di kawasan Asia, Nikkei 225 melemah tipis 0,02 persen. Hang Seng Index turun 0,86 persen, sementara Shanghai Composite masih mampu mencatatkan kenaikan 0,05 persen.
Lonjakan volatilitas juga tercermin dari kenaikan indeks ketakutan pasar, CBOE Volatility Index (VIX), yang melonjak hampir 18 persen ke level 20,82.
Di pasar obligasi AS, imbal hasil (yield) Treasury tenor 2 tahun turun ke 3,456 persen, sementara tenor 10 tahun melemah ke 4,099 persen. Penurunan yield mengindikasikan meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah gejolak pasar saham.
Harga komoditas turut tertekan. Minyak mentah jenis WTI turun 2,63 persen ke USD62,92 per barel, sedangkan Brent melemah 2,89 persen ke USD67,59 per barel. Emas di pasar Comex anjlok lebih dari 3 persen, sementara perak dan tembaga mencatatkan penurunan yang lebih dalam.
Tekanan pasar kali ini menunjukkan bahwa euforia AI yang selama ini mendorong reli saham global mulai menghadapi ujian realitas. Investor kini tak hanya melihat potensi pertumbuhan, tetapi juga risiko disrupsi besar terhadap tenaga kerja, profitabilitas, serta stabilitas ekonomi secara luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News