Mata uang rupiah melemah dengan menembus level Rp17.297 per USD. Foto: MI.
Mata uang rupiah melemah dengan menembus level Rp17.297 per USD. Foto: MI.

Rupiah Terseret Tekanan, Tembus Rp17.297 per Dolar AS

Arif Wicaksono • 23 April 2026 11:45
Ringkasnya gini..
  • Mata uang rupiah melemah dengan menembus level Rp17.297 per USD atau dalam titik terendah selama lima tahun terakhir menurut data Investing.
  • Laju rupiah sejalan dengan melemahnya laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada pembukaan hari ini sudah melemah sebanyak 7.457 dengan berada pada level 1,13 persen.
Jakarta: Mata uang rupiah melemah pada pembukaan perdagangan hari ini.
 
Mata uang rupiah melemah dengan menembus level Rp17.297 per USD atau dalam titik terendah selama lima tahun terakhir menurut data Investing.
 
Rupiah melemah saat dolar Indeks naik tipis ke level 98,512. Laju dolar indeks sudah melemah 0,50 persen selama setahun ini. 
 
Baca juga:  Rupiah Lagi Lemas, Ternyata Faktor Domestik Ikut Nahan Pergerakan                      

Laju rupiah sejalan dengan melemahnya laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada pembukaan hari ini sudah melemah dengan berada pada level 7.457 atau 1,13 persen. 

Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa  menjelaskan pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipicu faktor jangka pendek, tetapi juga terkait risiko struktural yang lebih luas, terutama kekhawatiran terhadap membesarnya defisit eksternal dan fiskal.
 
Jessica memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia berpotensi melebar ke kisaran 0,4–0,7 persen terhadap PDB pada 2026, didorong naiknya biaya impor energi dan tekanan berkelanjutan dari arus keluar pendapatan primer, termasuk pembayaran kewajiban luar negeri.
 
Di sisi fiskal, defisit anggaran juga diperkirakan meningkat ke sekitar 2,95 persen dari PDB, sedikit lebih tinggi dibanding proyeksi tahun sebelumnya. Menurut analisis Mirae Asset Sekuritas, setiap kenaikan harga minyak 10 persen dapat memperlebar defisit fiskal sekitar 0,02–0,07 persen dari PDB, terutama melalui kenaikan beban subsidi energi.
 
Selain itu, posisi eksternal dinilai menghadapi tekanan tambahan. Indonesia sebagai net importer minyak berisiko mengalami penyusutan surplus perdagangan bila harga energi terus naik. Dalam simulasi Mirae, kenaikan harga minyak 10 persen berpotensi menggerus surplus perdagangan sekitar 20–40 persen.
 
Jessica menyebut kondisi tersebut membentuk apa yang disebut sebagai deficit trap, ketika tekanan pada neraca berjalan, fiskal, dan cadangan devisa saling memperkuat dan memberi tekanan terhadap rupiah.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan