Rupiah. Foto: MI.
Rupiah. Foto: MI.

Rupiah Lagi Lemas, Ternyata Faktor Domestik Ikut Nahan Pergerakan

Arif Wicaksono • 20 April 2026 09:48
Jakarta: Rupiah kembali melemah dan pada perdagangan Jumat lalu menyentuh level terlemahnya di kisaran Rp17.190 per dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk sepanjang April. 
 
Tekanan ini terjadi di tengah kondisi global yang relatif tidak terlalu mendukung penguatan dolar secara luas, sehingga pelemahan Rupiah terlihat semakin menonjol dibandingkan mata uang lainnya di kawasan.
 
Baca juga:  Mata Uang Rupiah Masih Kerap Melemah saat IHSG Perpanjang Reli

Berdasarkan data perdagangan terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR) tercatat di level Rp17.189 per dolar AS, melemah tipis 0,3% secara harian. Meski demikian, secara bulanan (month-to-month/MoM) rupiah masih mencatat penguatan 0,8% dan naik 1,8% secara tahunan (year-on-year/YoY).
 
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto Pelemahan ini cukup mencolok mengingat indeks dolar AS atau US Dollar Index justru cenderung stabil di kisaran 98 dan bahkan menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa hari terakhir. 

“Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap Rupiah tidak semata-mata berasal dari faktor eksternal global, melainkan mulai mencerminkan faktor domestik yang lebih spesifik,” jelas dia. 
 
Di sisi lain, sinyal positif dari Standard & Poor's yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil sejauh ini belum mampu mendorong apresiasi Rupiah secara signifikan. Artinya, faktor fundamental jangka menengah masih diakui cukup solid, namun belum cukup kuat untuk meredam tekanan jangka pendek di pasar valuta asing.
 
Sementara itu, mata uang utama global justru menunjukkan penguatan yang cukup tajam sepanjang April. Euro dan pound sterling masing-masing mencatat kenaikan sekitar 9,1% dan 7,7% secara month-to-date, menandakan adanya rotasi aliran modal ke aset-aset di luar dolar AS. Perbedaan kinerja ini semakin menegaskan bahwa Rupiah berada dalam tekanan yang relatif lebih besar dibandingkan mata uang utama lainnya.
 
Sementara itu, won Korea Selatan (USD/KRW) justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Mata uang ini terapresiasi 1,3% secara harian, meskipun masih mencatat pelemahan 2,9% secara bulanan. Secara tahunan, won menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik dengan kenaikan 2,8%.
 
Berbeda dengan itu, yen Jepang (USD/JPY) masih berada dalam tren pelemahan. Yen melemah 0,3% secara harian dan 0,4% secara bulanan. Namun, dalam basis tahunan, yen masih mencatat penguatan signifikan sebesar 12,6%.
 
Adapun yuan China (USD/CNY) bergerak relatif stabil. Mata uang ini melemah tipis 0,1% secara harian dan 0,9% secara bulanan. Secara tahunan, yuan justru mencatat pelemahan cukup dalam sebesar 6,5%.
 
Secara keseluruhan, pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar valuta asing yang masih dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta kondisi ekonomi di masing-masing negara. Pelaku pasar pun cenderung selektif dalam menempatkan dana di tengah volatilitas yang masih tinggi
 
“Dengan latar belakang tersebut, kami menilai nilai tukar Rupiah masih akan menjadi sumber utama volatilitas bagi pasar keuangan domestik dalam jangka pendek,” tegas dia. 
 
Pergerakan Rupiah akan sangat dipengaruhi oleh sentimen investor global, kebijakan suku bunga AS, serta respons kebijakan domestik. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan ini secara seksama, terutama dalam mengelola risiko nilai tukar di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan