Kondisi ini terjadi meskipun indeks dolar AS secara global justru mengalami pelemahan. Indeks dolar AS sudah melemah 2,07 persen selama setahun.
Sepanjang April, sejumlah mata uang utama dunia seperti euro dan pound sterling mencatatkan penguatan yang cukup signifikan terhadap dolar AS.
| Baca juga: Cadangan Devisa Turun, BI Dinilai Masih Fokus Jaga Stabilitas Rupiah |
Berdasarkan data terbaru, nilai tukar USD/IDR tercatat di level Rp17.127 per dolar AS. Secara harian, rupiah menguat 0,1%, namun secara bulanan (month-to-date) masih mengalami depresiasi sebesar 0,6% dan melemah 1,9% secara tahunan (year-on-year).
Berbeda dengan rupiah, won Korea Selatan menunjukkan tekanan yang lebih dalam. USD/KRW berada di level 1.472,5 dengan pelemahan harian sebesar 0,7%. Secara bulanan, won terdepresiasi 1,3%, namun masih mencatatkan penguatan 3,1% dibandingkan posisi tahun lalu.
Sementara itu, yen Jepang juga masih berada dalam tren pelemahan. USD/JPY tercatat di level 158,8, melemah 0,4% secara harian dan 0,2% secara bulanan. Namun, dalam basis tahunan, yen masih menguat signifikan sebesar 10,9%.
Di sisi lain, yuan China relatif stabil. USD/CNY berada di level 6,8 dengan pergerakan harian yang cenderung stagnan. Meski demikian, secara bulanan yuan melemah 0,9% dan mencatatkan depresiasi 6,6% secara tahunan.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menuturkan secara keseluruhan pergerakan ini mencerminkan tekanan terhadap mata uang emerging markets masih belum mereda sepenuhnya.
Ketertinggalan rupiah dari mata uang global mencerminkan adanya faktor domestik yang masih membebani. Tekanan ini bisa berasal dari sentimen terhadap aliran modal asing, kondisi fundamental ekonomi, maupun persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Di sisi lain, pasar saham domestik justru menunjukkan performa yang lebih positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatannya dalam beberapa hari terakhir, mencerminkan adanya optimisme di kalangan pelaku pasar ekuitas.
IHSG mencatatkan penguatan signifikan dengan naik 2,3% ke level 7.676,0. Secara bulanan, IHSG menguat 5,1% dan mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 16,4%.
Kinerja positif juga terlihat pada indeks MSCI Indonesia yang naik 1,6% secara harian. Dalam basis bulanan, indeks ini menguat 4,2% dan mencatatkan kenaikan tipis 0,5% secara tahunan, mengindikasikan aliran dana yang mulai kembali ke pasar Indonesia.
Di kawasan regional, MSCI Emerging Markets (EM) turut mencatatkan penguatan 1,9% secara harian dan 4,5% secara bulanan. Secara tahunan, indeks ini naik 4,9%, mencerminkan pemulihan bertahap di pasar negara berkembang.
Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong menguat 0,8% ke level 25.872,3. Secara bulanan, indeks ini naik 0,8% dan mencatatkan lonjakan tahunan sebesar 19,8%, didorong oleh rebound saham teknologi dan sektor properti.
Indeks KOSPI Korea Selatan menjadi salah satu yang mencatatkan kinerja paling kuat dengan kenaikan harian 3,6%. Secara bulanan, indeks ini melonjak 8,8% dan menguat 14,9% secara tahunan, mencerminkan sentimen positif terhadap sektor teknologi dan manufaktur.
Di pasar Eropa, FTSE tercatat relatif stagnan secara harian, namun masih menguat 3,1% secara bulanan dan melonjak 28,3% secara tahunan, menandakan pemulihan yang solid dalam jangka panjang.
Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat juga melanjutkan penguatannya. Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,7% dengan kenaikan bulanan 3,6% dan tahunan sebesar 19,0%. Nasdaq bahkan mencatatkan penguatan lebih tinggi, naik 2,0% secara harian, 4,9% secara bulanan, dan melonjak 37,7% secara tahunan, didorong oleh kinerja kuat saham-saham teknologi.
Secara keseluruhan, tren penguatan di berbagai indeks global menunjukkan sentimen risk-on masih cukup dominan. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati potensi volatilitas, terutama yang berasal dari faktor geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
“Namun demikian, kenaikan IHSG dinilai masih didominasi oleh saham-saham dengan karakteristik spekulatif. Beberapa nama seperti BRPT, BREN, TPIA, dan DSSA menjadi pendorong utama penguatan indeks, meskipun saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat seperti BBCA dan BBRI juga turut mengalami kenaikan,” tegas dia.
Investor asing mulai menunjukkan tanda-tanda kembali masuk ke pasar dengan mencatatkan aksi beli bersih secara bertahap. Meski demikian, reli pasar saham saat ini dinilai masih rapuh, terutama jika tekanan terhadap rupiah belum mereda dalam waktu dekat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News