| Baca juga: Rupiah Kuat Menanti Rilis Cadangan Devisa |
BI tercatat meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing, sekaligus melakukan penyesuaian pada kepemilikan aset rupiah dan surat berharga negara. Langkah ini ditempuh untuk meredam volatilitas harian yang dipicu tekanan eksternal.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menuturkan meski efektif dalam jangka pendek, strategi tersebut juga menunjukkan bahwa otoritas moneter semakin sering mengandalkan instrumen stabilisasi setiap kali gejolak global meningkat.
Secara nominal, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang memadai. Per akhir periode terbaru, cadangan devisa tercatat sebesar USD148,2 miliar, setara dengan sekitar 6 bulan impor atau 5,8 bulan jika memperhitungkan pembayaran utang luar negeri.
“Angka tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional. Namun demikian, tren penurunan yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut mulai menjadi perhatian pelaku pasar,” tegas dia.
Rupiah kini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor global, tetapi juga mencerminkan persepsi terhadap risiko domestik.
Kekhawatiran atas potensi pelebaran defisit fiskal, koordinasi kebijakan yang dinilai belum optimal, hingga risiko penurunan peringkat utang Indonesia menjadi faktor yang membayangi sentimen pasar.
Kepercayaan Investor Jadi Kunci
Ke depan, keberlanjutan cadangan devisa akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan otoritas moneter menjaga kepercayaan investor. Selain intervensi jangka pendek, perbaikan fundamental ekonomi dinilai menjadi faktor penentu.Surplus perdagangan masih memberikan bantalan bagi stabilitas eksternal. Namun, ketidakpastian global yang berlanjut dan kecenderungan investor menghindari risiko (risk-off) berpotensi memicu arus keluar modal.
Dalam kondisi tersebut, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang kuat, serta pengelolaan fiskal yang kredibel, menjadi kunci untuk menjaga stabilitas.
Tanpa dukungan tersebut, cadangan devisa berisiko terus tergerus, meskipun secara indikator utama masih terlihat berada pada level aman dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News