Ilustrasi rupiah. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Ilustrasi rupiah. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Jelang Akhir Pekan, Rupiah Pagi Merosot ke Rp15.372/USD

Husen Miftahudin • 14 Oktober 2022 09:42
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan menjelang akhir pekan ini mengalami pelemahan.
 
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 14 Oktober 2022, nilai tukar rupiah terhadap USD berada di level Rp15.372 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 11 poin atau setara 0,07 persen dari posisi Rp15.361 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
 
Adapun rentang gerak rupiah berada di kisaran Rp15.365 per USD hingga Rp15.372 per USD. Sementara year to date (ytd) return terpantau sebesar 7,73 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah merosot di hadapan mata uang Negeri Paman Sam. Rupiah bertengger di posisi Rp15.370 per USD, turun 10 poin atau 0,06 persen dari Rp15.360 per USD.
 
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif. Namun mata uang Garuda pada penutupan perdagangan hari ini diperkirakan masih melemah.
 
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.340 per USD hingga Rp15.400 per USD," jelasnya.
 
Baca juga: Gerak Rupiah Flat, Pelaku Pasar Cemaskan Inflasi AS

 
Pelemahan ini didorong oleh sentimen investor yang memposisikan diri untuk isyarat yang lebih hawkish dari Federal Reserve menjelang data utama yang diharapkan menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS tetap mendekati level tertinggi selama 40 tahun terakhir.
 
The Fed juga akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diisyaratkan awalnya, karena berjuang untuk mengendalikan inflasi yang merajalela di negara itu.
 
"Data diperkirakan akan menunjukkan bahwa inflasi IHK AS tetap di atas delapan persen pada September, mendekati puncak 40 tahun yang dicapai sebelumnya pada 2022 (ekspektasi 8,1 persen)," terang Ibrahim.
 
Faktor lainnya, kasus covid-19 di Shanghai naik pada laju tercepat dalam tiga bulan di minggu ini. Hal ini mendorong kekhawatiran Tiongkok akan memberlakukan lebih banyak penguncian di pusat keuangan terbesarnya.
 
Sementara itu, kekhawatiran krisis ekonomi di Inggris, di tengah spekulasi apakah Bank of England akan menarik dukungannya untuk pasar utang, juga membebani selera investor.
 
"Walaupun  Financial Times melaporkan BoE telah memberi isyarat secara pribadi kepada pemberi pinjaman bahwa mereka siap untuk memperpanjang pembelian obligasinya," pungkas Ibrahim.
 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif