Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

BPR Siap Dorong Inklusi Keuangan Digital via Transaksi Berbasis QRIS

Angga Bratadharma • 18 Oktober 2022 09:06
Tangerang: Pemerintah Indonesia terus berkomitmen meningkatkan tingkat inklusi keuangan digital dan perluasan teknologi digital di masyarakat. Bank Indonesia (BI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun terus bersinergi mendorong peningkatan inklusi keuangan melalui penerapan digitalisasi dalam setiap transaksi keuangan.
 
Hal itu tentunya guna mendorong pencapaian target inklusi keuangan sebesar 90 persen pada 2024 serta mendukung Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), salah satunya melalui kampanye penggunaan QRIS.
 
Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah pengguna sistem pembayaran digital QRIS terus bertambah dan semakin mendekati target 30 juta pengguna di 2022. Hingga saat ini jumlah pengguna QRIS sudah mencapai 23 juta pengguna di mana 20,5 jutanya merupakan UMKM dan 90 persen di antaranya merupakan usaha kecil dan mikro.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Analis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Khoirunisa Elkarima mengatakan ketika Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sudah mulai terdigitalisasi maka layanan keuangan lainnya pun akan ikut berkembang. Banyak manfaat oleh pedagang dan pembeli saat mereka bertransaksi menggunakan QRIS.
Baca: Di Depan Dunia, Erick Thohir Pamer Transformasi BUMN

"Diharapkan nantinya pasar tradisional lainnya di Tangerang bisa segera mendigitalisasi sistem pembayarannya," kata Khoirunisa, dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 18 Oktober 2022.
 
Bank Indonesia terus memperluas penggunaan QRIS sebagai fasilitas pembayaran digital yang mendorong interlinking antara bank dan penyedia teknologi keuangan lainnya. Sementara itu, OJK juga terus mendorong akselerasi digitalisasi perbankan guna mempercepat transformasi digital di sektor perbankan yang sudah menjadi suatu keniscayaan.
 
Kondisi demikian mengharuskan perbankan untuk menempatkan transformasi digital sebagai prioritas dan sebagai salah satu strategi dalam upaya peningkatan daya saing bank.
 
Pengawas Senior Kepala Pengawas Regional 1 OJK Ahmad Husein mengatakan digitalisasi adalah keniscayaan di era digitalisasi. Kalau tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman maka sistem keuangan pembayaran akan tertinggal.
 
"Nasabah sekarang tidak lagi ke bank, namun bisa buka rekening dari rumah. Melalui digitalisasi, BPR punya daya saing dengan berbagai lembaga keuangan lainnya," kata Ahmad.
 
Sebagai upaya untuk mendukung langkah yang dilakukan Bank Indonesia dan OJK, PT BPR Magga Jaya Utama (Bank Maju) meluncurkan layanan transaksi digital berbasis QRIS yaitu QRIS Bank Maju di Pasar Bersih Malabar, Cibodas, Kota Tangerang, Banten.
 
Dengan layanan QRIS Bank Maju ini, merchant nasabah Bank Maju khususnya yang memiliki usaha dapat memanfaatkan layanan pembayaran berbasiskan QRIS, serta untuk mengelola transaksi dan kebutuhan merchant nasabah secara efektif dan efisien.
 
Komisaris Bank Maju Johannes Setiadharma mengatakan dengan menggunakan transaksi berbasiskan QRIS, tabungan dan operasional nasabah menjadi lebih aman dan efisien. Digitalisasi dengan QRIS, tidak perlu lagi menyimpan uang di brankas. Transaksi digital dapat menghindarkan pembeli dan penjual pasar dari perampokan.
 
Layanan transaksi digital berbasis QRIS Bank Maju ini dapat terwujud berkat kolaborasi dengan salah satu platform penyedia jasa sistem pembayaran digital yaitu PT Netzme Kreasi Indonesia (Netzme).
 
Kolaborasi ini dapat terwujud karena Bank Maju dan Netzme memiliki misi yang serupa yaitu berupaya meningkatkan tingkat inklusi keuangan digital dan perluasan teknologi digital di masyarakat, khususnya bagi UMKM.
 
Direktur Bisnis Bank Maju, Reny Rahardja mengatakan pihaknya sangat bangga dapat meluncurkan layanan baru ini yaitu layanan transaksi digital QRIS Bank Maju. Layanan ini disiapkan sebagai wujud komitmen pelayanan terbaik bagi nasabah serta mendukung perkembangan bisnis mitra.
 
Layanan baru ini, tambahnya, juga bertujuan menumbuhkembangkan UMKM maupun UKM melalui inklusi keuangan, teknologi, dan sistem pembayaran nontunai. "Digitalisasi adalah keniscayaan. bukan hanya sesuatu yang nice to have. Di era digital, BPR harus bisa beradaptasi dengan tuntutan zaman," pungkasnya.
 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif