Ilustrasi. Foto: Unsplash.
Ilustrasi. Foto: Unsplash.

Gen Z Perlu Jaga Riwayat Kredit Sejak Dini, Ini Dampaknya bagi Masa Depan Finansial

Arif Wicaksono • 05 November 2026 12:59
Ringkasnya gini..
  • Riwayat kredit sering kali baru menjadi perhatian ketika seseorang mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kendaraan, atau pinjaman lainnya.
  • Rekam jejak pembayaran tersebut mencatat bagaimana seseorang memenuhi kewajiban finansialnya dan menjadi salah satu bahan pertimbangan lembaga keuangan dalam menilai pengajuan pembiayaan.

Jakarta: Memiliki penghasilan sendiri dan akses ke berbagai layanan keuangan belum tentu menjamin kondisi finansial seseorang sehat. 

Bagi generasi Z (Gen Z), ada satu hal yang juga perlu diperhatikan sejak awal membangun kemandirian ekonomi, yakni menjaga riwayat kredit atau laporan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

 

Riwayat kredit sering kali baru menjadi perhatian ketika seseorang mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kendaraan, atau pinjaman lainnya. Padahal, rekam jejak pembayaran tersebut mencatat bagaimana seseorang memenuhi kewajiban finansialnya dan menjadi salah satu bahan pertimbangan lembaga keuangan dalam menilai pengajuan pembiayaan.

Karena itu, memahami laporan kredit sejak dini dapat membantu anak muda menghindari persoalan keuangan yang berpotensi menghambat rencana masa depan.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan kelompok usia 18–25 tahun mencapai 73,32%. Sementara itu, tingkat inklusi keuangannya mencapai 95,69%.

Data tersebut menunjukkan akses generasi muda terhadap produk dan layanan keuangan sudah cukup luas. Namun, pemahaman mengenai cara mengelola produk keuangan dan konsekuensi dari keputusan pembiayaan masih perlu diperkuat.

Dalam situasi ketika layanan pinjaman digital semakin mudah diakses, kemampuan mengelola utang dan menjaga rekam jejak pembayaran menjadi semakin penting.

Direktur Utama Cermati.com Fung Fuk Lestario mengatakan, kesadaran menjaga laporan kredit sebaiknya dibangun sebelum seseorang membutuhkan fasilitas pembiayaan.

"Kesadaran akan pentingnya laporan kredit sebaiknya ditumbuhkan sejak dini, bukan baru disadari ketika pengajuan kredit atau mencari pekerjaan. Dengan memahami rekam jejak kredit sejak dini, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengevaluasi kebiasaan finansialnya dan menjaga kesehatan finansialnya," kata Fung.

Riwayat Kredit Bisa Memengaruhi Rencana Masa Depan

Laporan kredit pada dasarnya merupakan catatan mengenai riwayat pembiayaan dan kedisiplinan seseorang dalam memenuhi kewajiban pembayaran. Di Indonesia, informasi tersebut tercatat dalam SLIK yang dikelola Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

 

Data ini menjadi salah satu bahan penilaian lembaga keuangan ketika seseorang mengajukan pinjaman atau pembiayaan. Riwayat pembayaran yang buruk dapat memengaruhi penilaian risiko dan memperkecil peluang seseorang memperoleh fasilitas kredit.

Dampaknya bisa terasa ketika Gen Z mulai merencanakan pembelian aset produktif, seperti rumah atau kendaraan. Seseorang yang memiliki penghasilan tetap sekalipun belum tentu memperoleh persetujuan kredit apabila memiliki catatan tunggakan atau kewajiban pembayaran yang belum diselesaikan.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan, terutama pada sektor tertentu seperti jasa keuangan, dapat menerapkan pemeriksaan latar belakang atau background check dalam proses rekrutmen. Namun, pemeriksaan riwayat kredit bukan persyaratan universal untuk seluruh pekerjaan dan tidak otomatis menentukan seseorang diterima atau ditolak.

Selain kebutuhan pembiayaan dan pekerjaan tertentu, pengecekan laporan kredit juga berguna untuk mendeteksi kemungkinan penyalahgunaan identitas. Misalnya, ketika seseorang menemukan pinjaman atau fasilitas pembiayaan yang tidak pernah diajukannya.

Dengan demikian, menjaga laporan kredit bukan semata-mata tentang mendapatkan persetujuan pinjaman, melainkan juga memastikan rekam jejak finansial tetap akurat dan terkendali.

Enam Cara Gen Z Menjaga Riwayat Kredit Tetap Sehat

Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan generasi muda untuk menjaga kesehatan laporan kredit.

1. Periksa laporan kredit secara berkala

Langkah pertama adalah memahami kondisi riwayat kredit sendiri. Masyarakat dapat memeriksa informasi SLIK melalui layanan iDebKu OJK.

Pengecekan ini membantu mengetahui fasilitas pembiayaan yang tercatat, status pembayaran, serta kemungkinan adanya data yang tidak sesuai. Pemeriksaan berkala juga penting untuk mendeteksi penyalahgunaan identitas.

2. Jangan mengambil pinjaman hanya karena mudah diakses

Kemudahan pengajuan pinjaman digital tidak berarti seseorang harus memanfaatkannya setiap kali membutuhkan uang.

Sebelum mengajukan pinjaman, periksa kebutuhan, kemampuan membayar, bunga, biaya administrasi, serta tenor. Hindari mengambil utang untuk memenuhi gaya hidup yang sebenarnya belum sesuai dengan kemampuan finansial.

3. Bayar cicilan tepat waktu

Kedisiplinan membayar cicilan merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga riwayat kredit.

Buat pengingat tanggal jatuh tempo atau gunakan fitur pembayaran otomatis jika tersedia. Jangan menunggu hingga mendekati tenggat waktu karena keterlambatan dapat memengaruhi catatan pembayaran.

4. Jaga rasio utang terhadap penghasilan

Besarnya cicilan bulanan perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Salah satu cara sederhana adalah menghitung perbandingan total cicilan utang terhadap penghasilan bulanan.

Sebagai pedoman pengelolaan keuangan, total cicilan sebaiknya dijaga tidak lebih dari sekitar 30% penghasilan bulanan. Dengan begitu, masih tersedia ruang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, dan menghadapi pengeluaran tidak terduga.

5. Segera selesaikan tunggakan

Jika sudah memiliki keterlambatan pembayaran, jangan mengabaikannya. Hubungi lembaga pemberi pinjaman untuk mengetahui jumlah kewajiban dan opsi penyelesaian yang tersedia.

Apabila terdapat kesalahan pencatatan, ajukan klarifikasi atau pengaduan kepada lembaga keuangan terkait agar informasi dapat diperiksa dan diperbaiki sesuai prosedur.

6. Hindari menggunakan identitas untuk pinjaman orang lain

Membantu teman atau keluarga dengan meminjamkan identitas untuk pengajuan kredit bisa menimbulkan risiko finansial.

Jika kewajiban pembayaran tidak dipenuhi, pemilik identitas berpotensi menghadapi masalah karena fasilitas pembiayaan tersebut tercatat atas namanya. Karena itu, jangan memberikan data pribadi maupun akses akun keuangan kepada pihak lain secara sembarangan.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan