Foto: Ist
Foto: Ist

Koalisi Kesehatan Keuangan Indonesia Dorong Ketahanan Finansial UMKM

Medcom • 28 September 2026 12:30
Ringkasnya gini..
  • Tingkat inklusi keuangan Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Namun, peningkatan akses terhadap layanan keuangan dinilai perlu diikuti dengan penguatan kesehatan dan ketahanan finansial, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tingkat akar rumput.
  • Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61%. Capaian tersebut menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
  • Meski demikian, bagi UMKM akar rumput, kesehatan finansial tidak hanya ditentukan oleh kemudahan memperoleh layanan keuangan. Kemampuan mengelola kebutuhan finansial sehari-hari, menghadapi guncangan pendapatan dan kebutuhan tidak terduga, serta menjaga keberlanjutan usaha juga menjadi bagian penting dari ketahanan finansial.
Jakarta: Tingkat inklusi keuangan Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Namun, peningkatan akses terhadap layanan keuangan dinilai perlu diikuti dengan penguatan kesehatan dan ketahanan finansial, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tingkat akar rumput.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61%. Capaian tersebut menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

Meski demikian, bagi UMKM akar rumput, kesehatan finansial tidak hanya ditentukan oleh kemudahan memperoleh layanan keuangan. Kemampuan mengelola kebutuhan finansial sehari-hari, menghadapi guncangan pendapatan dan kebutuhan tidak terduga, serta menjaga keberlanjutan usaha juga menjadi bagian penting dari ketahanan finansial.

Merespons kondisi tersebut, Amartha Financial (Amartha) membentuk Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) sebagai platform kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat agenda kesehatan finansial masyarakat akar rumput.

ICFH menggelar forum “Indonesian Coalition for Financial Health: The First Step Forward” pada 24 September 2026. Forum tersebut melibatkan 15 institusi lintas sektor sebagai langkah awal untuk mengarusutamakan isu kesehatan keuangan sekaligus mendorong intervensi yang lebih terkoordinasi.

Hanya Empat dari 10 UMKM Miliki Kesehatan Finansial Memadai

Head of Secretariat ICFH sekaligus Chief Compliance & Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, memaparkan hasil riset financial health check-up terhadap lebih dari 1.800 responden di berbagai wilayah Indonesia.

Hasil riset menunjukkan hanya sekitar empat dari 10 UMKM di Indonesia yang telah mencapai kondisi kesehatan finansial yang memadai.

Aria mengatakan akses terhadap layanan keuangan dan kepercayaan diri pelaku UMKM terhadap pengelolaan usaha sudah menunjukkan perkembangan. Namun, kemampuan menghadapi guncangan dan membangun kapasitas pertumbuhan masih menjadi tantangan.

“Saat ini hanya empat dari sepuluh UMKM di Indonesia telah mencapai kondisi kesehatan finansial yang memadai. Walaupun akses keuangan dan kepercayaan diri sudah bagus, namun kemampuan UMKM bertahan terhadap goncangan dan memiliki kemampuan bertumbuh masih rendah. Dari bukti empiris ini, intervensi dan kebijakan yang lebih terorkestrasi diperlukan untuk memperkuat ekosistem secara keseluruhan,” ujar Aria.

Menurut dia, temuan tersebut menunjukkan perlunya pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga memperkuat kemampuan UMKM menghadapi berbagai risiko finansial.

Perkuat Akses Pasar dan Pembiayaan

Sebagai bagian dari aksi nyata, Amartha bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) serta Women's World Banking (WWB) telah menjalankan prototipe market linkage dan formalisasi usaha melalui program “Tumbuhkan Peluang” di Yogyakarta.

Program tersebut selanjutnya disiapkan untuk diperluas ke Palu dan Palembang.

Untuk mendukung UMKM yang sedang mempersiapkan diri untuk berkembang dan terhubung dengan agregator, Amartha juga menyiapkan produk pembiayaan berupa invoice financing dan export financing.

Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan tersedianya sumber pembiayaan bagi UMKM yang memiliki kapasitas untuk meningkatkan skala usaha.

UMKM Perempuan Hadapi Risiko Finansial

Temuan tersebut juga sejalan dengan tren yang ditemukan Women's World Banking. Lembaga tersebut menilai inklusi keuangan memang telah memperluas akses pembiayaan, tetapi masih terdapat hambatan struktural yang membuat banyak pengusaha perempuan belum memiliki ketahanan finansial yang memadai.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah keterbatasan instrumen perlindungan usaha. Karena itu, dibutuhkan kebijakan yang lebih inklusif dan responsif gender.

Agnes Salyanty, Sr. Research Lead Southeast Asia Women's World Banking, mengatakan pelaku UMKM perempuan di Indonesia memiliki kebiasaan mengelola keuangan secara disiplin. Namun, kebutuhan mereka tidak berhenti pada akses pembiayaan.

“Pola di Indonesia menunjukkan bahwa perempuan UMKM adalah pengelola keuangan yang sangat disiplin. Namun, tantangan global yang juga terjadi di banyak negara berkembang adalah mayoritas produk keuangan dirancang untuk membiayai, belum melindungi,” ujar Agnes.

Menurut dia, kesehatan finansial baru dapat terwujud apabila seluruh ekosistem, mulai dari produk keuangan, kebijakan, hingga rantai distribusi, mampu menjawab berbagai risiko yang dihadapi pelaku usaha dalam kehidupan sehari-hari.

Dorong Kolaborasi Lintas Sektor


ICFH ke depan akan membuka ruang kolaborasi dengan lebih banyak pihak, mulai dari sektor keuangan, pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, akademisi, hingga komunitas.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat agenda financial health sekaligus membangun kebijakan dan inovasi berdasarkan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat.

Aria mengatakan kesehatan finansial merupakan tujuan penting dari agenda inklusi keuangan dan pemberdayaan masyarakat.

“Bagi Amartha, kesehatan finansial adalah tujuan dari agenda inklusi keuangan dan pemberdayaan guna mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi penting, dengan masing-masing pihak berkontribusi sesuai kapasitas dan keahliannya sekaligus membangun bukti dari kondisi nyata di lapangan agar inovasi dan kebijakan dapat dikembangkan di atas landasan yang robust dan relevan,” tutup Aria.

Melalui ICFH, Amartha mendorong pendekatan yang lebih luas dalam memperkuat UMKM akar rumput. Tidak hanya melalui akses pembiayaan, tetapi juga melalui peningkatan ketahanan menghadapi guncangan, perluasan akses pasar, perlindungan usaha, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASM)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan