Jakarta: Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi, 9 Juli 2026. Mata uang Garuda kembali berada di bawah tekanan di tengah pergerakan pasar keuangan global.
Berdasarkan data pasar spot hingga pukul 09.01 WIB, rupiah berada di level Rp18.066,7 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 81,1 poin atau 0,45 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) justru bergerak melemah tipis. Indeks tercatat turun 0,08 persen ke level 100,767, mengindikasikan tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya dipicu oleh penguatan dolar AS secara global.
| Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa Turun ke 4,8% di 2026 |
Pergerakan rupiah terhadap mata uang utama lainnya juga cenderung melemah. Terhadap euro, rupiah berada di kisaran Rp20.612,0 per euro. Sementara terhadap yuan Tiongkok, rupiah berada pada level Rp2.656,45.
Tekanan terhadap rupiah tak terjadi di mata uang kawasan. Rupiah naik 0,03 persen terhadap yen Jepang ke level Rp111,16, rupiah naik 0,05 persen terhadap dolar Singapura menjadi Rp13.965,78, serta terapresiasi 0,14 persen terhadap ringgit Malaysia ke posisi Rp4.428,52.
Adapun terhadap won Korea Selatan, rupiah naik 0,22 persen menjadi Rp11,98, sedangkan terhadap baht Thailand mencatat kenaikan 0,30 persen ke level Rp538,79.
Sementara itu, harga emas dunia bergerak terkoreksi tipis pada perdagangan pagi. Emas spot turun 0,09 persen atau 3,78 poin ke level USD4.073,74 per troy ons, mencerminkan aksi konsolidasi pelaku pasar setelah penguatan pada sesi sebelumnya.
Pelaku pasar kini menantikan respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Selain itu, investor juga masih mencermati perkembangan sentimen eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan mata uang domestik sepanjang perdagangan hari ini.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda