Ilustrasi IHSG. Foto: MI/Usman Iskandar
Ilustrasi IHSG. Foto: MI/Usman Iskandar

IHSG Menguat Hari Ini, Pasar Masih Pantau Negosiasi AS-Iran

Annisa ayu artanti • 17 April 2026 10:18
Ringkasnya gini..
  • IHSG dibuka menguat 0,32% di tengah pasar yang masih mencermati negosiasi AS-Iran.
  • Sentimen global dan inflasi Eropa membatasi potensi penguatan indeks.
  • Rating Indonesia tetap stabil, dorong kepercayaan investor dan aliran dana asing.
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat pada perdagangan pagi ini di tengah pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
 
Melansir Antara, Jumat, 17 April 2026, IHSG dibuka menguat 24,43 poin atau 0,32 persen ke posisi 7.645,81. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,16 poin atau 0,15 persen ke posisi 758,48.
 
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.500- 7.850. Potensi menguat ada namun terbatas,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico.

Dari mancanegara, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Amerika telah mencapai kesepakatan dengan Iran, dan pembicaraan akan berlanjut pada akhir pekan.
 
Namun, Trump mengklaim tanpa bukti, bahwa Iran telah setuju untuk menyetujui persyaratan nuklir dan menyerahkan material nuklir, termasuk untuk tidak memiliki senjata nuklir, serta akan melakukan pembukaan Selat Hormuz.
 
Baca juga: IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Waspadai Potensi Koreksi

Selain itu, Trump menyetujui Israel dan Lebanon untuk melakukan gencatan senjata selama 10 hari untuk meredakan ketegangan yang lebih luas di kawasan. Trump akan mengundang Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk berdiskusi dalam kurun waktu sepekan mendatang.
 
Dari kawasan Eropa, tekanan inflasi mulai bergerak ke atas akibat konflik di kawasan Timur Tengah, yang telah mendorong kenaikan harga energi global.
 
Sehingga, proyeksi pemangkasan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) telah berubah, dari sebelumnya pemangkasan sebanyak dua kali pada 2026, sekarang berpotensi mengalami kenaikan apabila inflasi tidak kunjung stabil.
 
Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut S&P Global mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB (investment grade) dengan outlook stabil, mencerminkan risiko gagal bayar yang relatif rendah.
 
Secara makro, Nico menilai keputusan S&P menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia karena menjaga kepercayaan investor global, khususnya investor institusi yang mensyaratkan rating investment grade.
 
“Stabilnya rating juga berpotensi menahan kenaikan yield obligasi pemerintah (SBN), sehingga biaya pendanaan negara tetap terjaga di tengah tekanan global,” ujar Nico.
 
Dari sisi pasar modal, Nico menyebut hal itu akan mendukung capital inflow ke saham dan obligasi, terutama apabila dikombinasikan dengan tren fiskal yang disiplin dan pertumbuhan ekonomi yang membaik.
 
“Sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti perbankan dan properti bisa mendapat sentimen positif karena ekspektasi stabilitas biaya dana,” ujar Nico.
 
Namun demikian, Nico menyebut catatan S&P terkait rasio pembayaran bunga utang yang masih di atas 15 persen akan menjadi risiko jangka menengah.
 
“Jika tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan negara yang berkelanjutan, bisa membatasi ruang fiskal pemerintah ke depan,” ujar Nico.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan