Namun, bukan berarti BoJ cukup dekat untuk menarik pelatuk guna menaikkan tingkat suku bunga acuan yang sekarang ini menerapkan suku bunga acuan negatif. Tidak hanya Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda dan salah satu Wakil Gubernur BoJ Kikuo Iwata, tetapi anggota dewan gubernur lainnya akan memerlukan perubahan yang signifikan.
Sayangnya, pejabat bank sentral dihantui oleh dua kegagalan mereka sejak 2000 untuk keluar dari kisaran imbal hasil di nol persen dan lebih suka berada di posisi pengetatan kebijakan. Saat ini, BoJ terus berupaya untuk mengambil kesempatan agar bisa keluar dari stagnasi perekonomian.
Baca: Kerangka Kebijakan Baru BoJ Dihadapkan pada Ujian Pertama
"Hal terakhir adalah BoJ harus dikritik lagi untuk melakukan sesuatu hal untuk memacu pertumbuhan ekonomi," kata salah seorang sumber yang akrab dengan pemikiran BoJ, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (22/12/2016).
.jpg)
Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda (REUTERS/Toru Hanai)
Di bawah kebijakan baru yang diadopsi pada September, BoJ menggeser sasaran kebijakan suku bunga dari kecepatan cetak uang dengan harapan hal itu akan meringankannya dari mempertahankan pembelian obligasi pemerintah dalam jumlah yang besar. Analis melihat pembelian itu sebagai kondisi tidak berkelanjutan.
Baca: Pemerintah Jepang Upgrade Penilaian Ekonomi Keseluruhan
BoJ percaya bisa mencapai janji baru dengan membimbing imbal hasil obligasi 10 tahun sekitar nol persen dengan mengurangi pembelian obligasi. Akan tetapi, realisasinya terbukti lebih sulit dari yang diharapkan, seperti imbal hasil obligasi pemerintah Jepang naik seiring dengan tingginya suku global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News