Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Ekonomi Suahasil Nazara menjelaskan Indonesia tak bisa mendapatkan dana segar tanpa ada suntikan dari investor. Mereka bersedia mengucurkan dana pinjaman melalui surat berharga negara (SBN).
Surat itu hanya selembar kertas yang menjelaskan Indonesia siap membayar seluruh pinjaman yang diberikan oleh Investor, termasuk nilai pokok utang. Investor kemudian mau mengambil SBN itu karena percaya kepada Indonesia.
"Ini saya tulis begini, saya kasih, mau beli apa enggak? Kan tergantung saya punya kredibilitas apa tidak. Kalau saya punya kredibilitas, you percaya, you mau pegang surat itu, kasih duit ke saya. Nanti over time saya balikin, bunganya, pokoknya. Itulah surat utang," jelas Suahasil usai bertemu dengan investor di Osaka, Jepang, Sabtu, 2 Februari 2019.
Menurut dia, jika sudah membeli surat utang, Indonesia pun terus menjelaskan pertumbuhan tentang Tanah Air kepada investor. Misalnya, inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Tanah Air serta kebijakan pemerintah.
Ia menilai langkah ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan dan kredibilitas Indonesia. Pasalnya, kredibilitas menentukan investor mau membeli surat utang dari Indonesia.
"Kalau enggak melakukan investor update, ya kaya kita minjamin uang ngilang saja. Kita cari enggak ketemu, kita telepon enggak jawab, di-WhatsApp dibaca tapi enggak dijawab. Duitnya dipakai buat apa enggak tahu, hasilnya buat apa, kita enggak tahu. Itu makanya kita perlu memaintance investor," ujar dia.
Baca: BI Ingin Investor Jepang Sentuh Sektor Keuangan
Jepang adalah investor terbesar kedua di Indonesia setelah Singapura. Pada 2017, total realisasi mencapai USD5 miliar.
Selama periode Januari-Juni 2018, Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat Jepang masih menduduki posisi kedua. Realisasi penanaman modal asing mencapai USD2,4 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News