Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menjelaskan bank-bank asal Jepang sudah masuk ke Indonesia sejak 1980. Investasi kemudian berkembang dengan masuknya industri otomotif, seperti Toyota serta Mitsubishi.
"Jadi kalau foreign direct investment-nya Jepang ke Indonesia ini sudah cukup paham," kata Mirza saat berbincang dengan wartawan di Tokyo, Jepang, Jumat, 1 Februari 2019.
Menurut dia, modal yang ditanamkan para investor Jepang selama ini hanya dalam bentuk investasi langsung, seperti di sektor manufaktur. Padahal, investasi melalui portofolio di Indonesia juga sangat menjanjikan.
"Tetapi berbeda dengan investor Asia lain, investor Eropa, Amerika, investor Jepang exposure-nya di SBN rupiah itu masih very-very little. Padahal sama-sama investment-kan, bangun pabrik kan investment juga," jelas dia.
Baca: Masyarakat Jepang Sangat Merawat Uang Kertas
Mirza dalam dua hari ini tengah berada di Jepang. Dia bertemu dengan beberapa investor dan analis perusahaan di Jepang. Dia mengajak investor masuk ke dalam instrumen surat utang Indonesia. Risiko berinvestasi pada instrumen ini dinilai lebih kecil ketimbang investasi langsung.
"(Investasi langsung) malah resikonya, maksudnya bisa masalah mesinlah, bisa masalah demo pegawai dan sebagainya. Di surat berharga negara lebih mudah. Investor Jepang yang berinvestasi postur negara itu sangat konservatif. Makanya investasi mereka, kalau SBN itu exposure investor Jepang very-very little," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News