Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Tuduhan ke Tiongkok Disebut tak Menguntungkan AS

Ekonomi as-tiongkok Perang dagang
Ade Hapsari Lestarini • 13 Agustus 2019 19:30
New York: Para pakar Amerika Serikat (AS) mengatakan tuduhan AS kepada Tiongkok sebagai manipulator mata uang disebut tidak akan memberikan keuntungan bagi Negeri Paman Sam.
 
Dana Moneter Internasional (IMF) menolak menyebut Tiongkok sebagai manipulator mata uang. Tuduhan tersebut dilontarkan oleh Departemen Keuangan AS. Demikian disampaikan Sarwar Kashmeri, asisten profesor ilmu politik di Norwich University yang berbasis di Vermont kepada Xinhua dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
 
Pekan lalu, Departemen Keuangan AS menetapkan Tiongkok sebagai manipulator mata uang, menyusul melemahnya mata uang Tiongkok melampaui 7 yuan per dolar AS. IMF kemudian menegaskan pandangannya dalam laporan terbaru bahwa nilai tukar Tiongkok sejalan dengan fundamental ekonomi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Posisi eksternal pada 2018 dinilai sejalan dan konsisten dengan fundamental jangka menengah dan kebijakan yang diinginkan," kata IMF dalam laporannya, setelah menyimpulkan konsultasi Pasal IV tahunan untuk meninjau ekonomi Tiongkok, konsisten dengan kesimpulan sebelumnya dalam Laporan Sektor Eksternal tahunan yang dirilis pada Juli, demikian seperti dilansir dari Xinhua, Selasa, 13 Agustus 2019.
 
"Dengan melabeli secara formal Tiongkok sebagai manipulator mata uang, AS harus bekerja melalui IMF. (Tapi) pelabelan ini menyimpang dari penilaian ekonomi IMF terhadap Tiongkok," tambah Alexis Crow, pemimpin praktik investasi geopolitik di PricewaterhouseCoopers dan senior bisnis global dan ekonomi di Atlantic Council.
 
Baca juga: Respons Tiongkok Usai Dituduh AS Memanipulasi Mata Uang
 
Crow menegaskan tuduhan tak berdasar terhadap Tiongkok ini bak mengayunkan sebilah pisau di tengah negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung, karena tidak bermanfaat bagi AS, atau siapa pun.
 
"Ekonomi utama Eropa, terutama Jerman, berada di ambang resesi, Jepang dan Korea mengelola kondisi ekonomi yang memburuk -sebagian besar karena guncangan eksternal dari ketegangan perdagangan," jelas Crow.
 
Ketidakpastian yang diakibatkan oleh sengketa perdagangan AS-Tiongkok telah menyebabkan kerusakan jangka panjang. Ekonomi AS juga menunjukkan tanda-tanda risiko penurunan akibat ketegangan perdagangan yang berkepanjangan.
 
Pada Minggu waktu setempat, Goldman Sachs menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal keempat. Mereka mencatat dampak ketegangan perdagangan terhadap ekonomi memburuk dan ketegangan perdagangan akan mengakibatkan resesi ekonomi semakin meningkat.
 
Mengutip bahwa banyak indikator ekonomi tidak berjalan dengan baik, Bank of America pada Senin meningkatkan peluang ekonomi AS jatuh ke dalam resesi selama 12 bulan ke depan menjadi lebih dari 30 persen.
 
"Kekhawatiran yang lebih besar yang saya miliki adalah perlambatan di segmen bisnis jasa yang sekarang terjadi, dan juga prospek yang lebih konservatif untuk lingkungan bisnis. Jika kedua tren ini berlanjut hingga awal tahun depan, itu pasti akan menimbulkan masalah bagi ekonomi AS," kata Kashmeri.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif