Bitcoin. Foto: Unsplash.
Bitcoin. Foto: Unsplash.

Bitcoin Tertekan Geopolitik, Optimisme Muncul di Tengah Ketakutan Ekstrem

Arif Wicaksono • 31 Maret 2026 15:28
Jakarta: Pergerakan Bitcoin masih dibayangi ketidakpastian global. Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar itu naik tipis 1,05% ke level USD67.200 (sekitar Rp1,14 miliar), setelah sebelumnya sempat menyentuh USD68.000.
 
Kenaikan tersebut tidak berlangsung lama. Menjelang penutupan kuartal I-2026, harga kembali bergerak terbatas. Dominasi pasar Bitcoin kini berada di kisaran 58,6%, sementara total kapitalisasi pasar kripto naik 1,2% menjadi USD2,29 triliun.
 

Penguatan sempat terjadi pada awal pekan, dipicu sentimen positif dari meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, reli tersebut gagal bertahan seiring pasar kembali dihantui ketidakpastian.
 
Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, menilai kondisi ini membuat kinerja Bitcoin secara tahun berjalan (year to date/YTD) masih terkoreksi dalam, yakni minus 23,7%. Meski begitu, ia melihat peluang perbaikan pada kuartal II-2026, mengacu pada pola historis yang menunjukkan rata-rata kenaikan lebih dari 27% dalam 12 tahun terakhir.

Di sisi lain, tekanan terhadap aset berisiko meningkat akibat lonjakan harga minyak mentah. Minyak WTI tercatat naik 5,3% mendekati USD105 per barel, level tertinggi sejak 2022. Lonjakan ini memperkuat sentimen risk-off di pasar global.
 
Indikator psikologis pasar pun mencerminkan kondisi tersebut. Fear & Greed Index masih bertahan di level 8, menandakan pasar berada dalam fase ketakutan ekstrem.
 
Menariknya, di tengah tekanan pasar, aktivitas institusional justru menunjukkan arah berbeda. Perusahaan BitMine dilaporkan melakukan akumulasi besar dengan membeli 71.179 ETH senilai USD143 juta. Aksi ini menjadikannya salah satu pemain institusi yang masih agresif, di saat banyak perusahaan lain mulai menahan ekspansi.
 
Sementara itu, sentimen dari kebijakan moneter sedikit meredakan kekhawatiran pasar. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menegaskan bahwa bank sentral tidak akan bereaksi berlebihan terhadap lonjakan harga minyak jangka pendek dan tetap fokus menjaga ekspektasi inflasi.
 
Pernyataan tersebut langsung direspons pasar obligasi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,35%, sementara tenor 2 tahun melemah ke 3,83%. Berdasarkan data CME Group melalui FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada 2026 juga turun drastis dari 25% menjadi hanya 5%.
 
Kondisi ini memberi ruang napas bagi pasar keuangan global, termasuk aset kripto, meskipun volatilitas diperkirakan masih akan tinggi dalam waktu dekat. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan