Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO

Wakil Mentan AS Takjub Lihat Pertanian Tradisional di Jatiluwih

Antara • 30 September 2022 09:15
Tabanan: Wakil Menteri Pertanian (Mentan) Amerika Serikat (AS) Jewel H Bronaugh mengaku takjub melihat tradisi dan sejarah panjang sistem bertani tradisional di Jatiluwih, Tabanan, Bali. Apalagi menerapkan praktik-praktik berkelanjutan dan mampu mengantisipasi berbagai situasi perubahan iklim.
 
Bronaugh mengatakan pengalaman melihat langsung kompleks persawahan terasering di Jatiluwih, yang merupakan penutup rangkaian pertemuan menteri pertanian (AMM) G20 di Bali, menjadi momen yang tidak terlupakan.
 
"Tradisi yang bertahan lama di Jatiluwih ini sangat menakjubkan. Kita harus menghormati warisan ini, karena tradisi bertani di sini telah ada sejak abad ke-9. Tradisi semacam ini yang dipertahankan bertahun-tahun oleh para petani, dan ini juga yang menopang perekonomian Indonesia," kata Bronaugh, dilansir dari Antara, Jumat, 30 September 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam kesempatan yang sama, ia menilai, mempertahankan cara bertani tradisional bukan sesuatu yang mudah sehingga ia terpukau pada petani di Jatiluwih yang mampu melestarikan tradisi bertani yang organik dan minim polusi, mengingat sawah di tempat itu masih dibajak oleh sapi, dan bukan traktor.
Baca: Pemerintah Dorong Riset dan Percepatan Hilirisasi Timah Monasit

"Kami di sini melihat bagaimana tradisi itu bertahan, sejarah di balik itu, dan bagaimana sistem irigasi di sini bekerja. Ini adalah pengalaman yang tidak akan saya lupakan,” kata Wakil Menteri Pertanian AS itu.
 
Bronaugh, dalam kunjungannya, juga menjelaskan pertanian digital, yang menjadi salah satu tema sentral di G20 Agriculture Ministers Meeting (AMM), menjadi kian relevan saat dihadapkan pada cara bertani tradisional di Jatiluwih yang terbukti berkelanjutan dan mampu beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.
 
Ia menyampaikan pertanian digital dan pertanian tradisional bukan dua hal yang bertentangan, karena keduanya justru saling melengkapi. Pemanfaatan teknologi pada pertanian digital dapat membantu petani-petani tradisional, seperti misalnya di Jatiluwih, untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan lahan dan air.
 
“Teknologi digital juga dapat membantu petani mengantisipasi perubahan iklim, dan tetap meningkatkan produktivitas. Keduanya adalah pasangan yang tepat, tradisi, dan teknologi yang merupakan masa depan pertanian,” kata dia.
 
Bronaugh bersama pejabat asing lainnya, antara lain Menteri Pertanian dan Agripangan Kanada Marie-Claude Bibeau dan Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) Qu Dongyu melihat langsung praktik bertani tradisional di Jatiluwih, Tabanan.
 
Kawasan persawahan Jatiluwih yang mencakup Pura Ulun Danu Batur, Danau Batur, lanskap sungai dan pura pada daerah aliran sungai (DAS) di Pakerisan, Caturrangga Batukaru, dan Pura Taman Ayun telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia sejak 2012.
 
Dalam kunjungan itu, para delegasi asing yang menghadiri AMM G20 juga diajak mencicipi panganan dan minuman khas Jatiluwih, di antaranya teh beras merah.
 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif