Malaysia. Foto: Unsplash.
Malaysia. Foto: Unsplash.

Krisis Timur Tengah Bikin Panas, Industri Manufaktur Malaysia Mulai Ketar-Ketir

Arif Wicaksono • 08 Mei 2026 15:35
Ringkasnya gini..
  • Sektor manufaktur Malaysia tengah menghadapi tekanan serius di tengah berlanjutnya krisis geopolitik di Timur Tengah.
  • Gangguan pada jalur pengiriman dan logistik kini meluas dan mulai mempengaruhi berbagai aspek rantai pasok industri, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga kondisi tenaga kerja.
Kuala Lumpur: Sektor manufaktur Malaysia tengah menghadapi tekanan serius di tengah berlanjutnya krisis geopolitik di Timur Tengah. 
 
Gangguan pada jalur pengiriman dan logistik kini meluas dan mulai mempengaruhi berbagai aspek rantai pasok industri, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga kondisi tenaga kerja.
Federasi Manufaktur Malaysia (Federation of Malaysian Manufacturing/FMM) menyebutkan kondisi bisnis industri manufaktur terus melemah dalam beberapa pekan terakhir.
 
Baca juga:  Perusahaan Manufaktur Serap 20 Juta Pekerja, Menperin Bantah PHK Massal

Berdasarkan survei yang melibatkan 225 perusahaan, sekitar 72 persen responden mengaku kondisi bisnis mereka memburuk sejak awal April. Dari jumlah tersebut, 22 persen bahkan menilai penurunan yang terjadi cukup signifikan.
 
FMM juga mencatat sekitar 70 persen perusahaan manufaktur mengalami gangguan pada pasokan bahan baku. Situasi ini diperburuk dengan menipisnya tingkat persediaan di banyak perusahaan.

Sebanyak 40 persen responden hanya memiliki stok bahan baku penting untuk satu hingga dua bulan, sementara 29 persen lainnya melaporkan persediaan hanya cukup untuk dua hingga tiga minggu ke depan.
 
Dari sisi biaya, tekanan juga semakin meningkat. Sebanyak 87 persen responden melaporkan kenaikan biaya pengiriman dibandingkan sebelum krisis. Selain itu, 86 persen menyebut waktu pengiriman barang menjadi lebih lama akibat perubahan rute pelayaran melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope).
 
Akibat perubahan jalur tersebut, waktu pengiriman ke Eropa kini mencapai 35 hingga 45 hari, meningkat cukup tajam dibandingkan sebelumnya yang berkisar 25 hingga 30 hari.
 
Dari sisi keuangan, sekitar 68 persen perusahaan mengaku mengalami tekanan arus kas dan modal kerja. Bahkan, 13 persen di antaranya menyebut kondisi tersebut sudah cukup serius hingga mengganggu pembayaran kepada pemasok maupun pemenuhan pesanan.
 
Dampak lanjutan juga terlihat pada tenaga kerja. Sebanyak 28 persen perusahaan manufaktur di Malaysia telah melakukan atau berencana melakukan penyesuaian jumlah tenaga kerja sebagai respons terhadap tekanan bisnis.
 
FMM menegaskan bahwa dampak konflik di Timur Tengah kini tidak hanya terbatas pada kenaikan biaya logistik, tetapi sudah merembet ke penurunan produksi, melemahnya permintaan, tekanan finansial perusahaan, hingga ancaman terhadap lapangan pekerjaan di sektor manufaktur.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan