Dikutip dari Anadolu, lewat unggahan di platform X pada Senin (13/4), Presiden Iran menegaskan bahwa penghinaan terhadap sosok yang mewakili nilai-nilai spiritual dan perdamaian tidak dapat dibenarkan. Ia juga menyinggung figur Yesus sebagai simbol perdamaian dan persaudaraan yang seharusnya dihormati lintas bangsa dan agama.
| Baca juga: AS Siapkan Operasi Blokade Total Selat Hormuz, Ini Respons Iran |
Kritik serupa disampaikan Kementerian Luar Negeri Iran. Juru bicara Esmail Baghaei menyebut pernyataan Presiden Amerika sebagai bentuk serangan terhadap upaya global dalam mendorong perdamaian.
“Di tengah gemuruh konflik dan dominasi retorika perang, pesan Paus justru menggaungkan nilai-nilai Injil tentang pentingnya menjadi pembawa damai,” ujar Baghaei.
Menurutnya, serangan verbal terhadap Paus bukan sekadar kritik personal, melainkan juga bentuk pelemahan terhadap suara moral yang memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.
Kontroversi ini bermula dari pernyataan Presiden Amerika sekarang yang melabeli Paus Leo XIV sebagai pemimpin yang “lemah” dalam menghadapi kejahatan dan tidak kompeten dalam urusan kebijakan luar negeri. Presiden Amerika Serikat itu juga menuding sikap Paus terhadap konflik global sarat kepentingan politik.
Menanggapi hal tersebut, Paus Leo XIV memilih merespons dengan nada tenang. Ia menegaskan tidak gentar terhadap tekanan politik dan akan terus menyuarakan penolakan terhadap perang.
“Sikap saya berakar pada ajaran Injil, bukan kepentingan politik,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa ia tidak berniat terlibat dalam perdebatan langsung dengan Presiden Amerika tersebut.
Belakangan, Paus Leo XIV memang semakin vokal menyerukan perdamaian, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia secara terbuka mengkritik pendekatan “pamer kekuatan” yang dinilai hanya memperburuk konflik.
Sebagai informasi, Paus Leo XIV, yang memiliki nama lahir Robert Francis Prevost, terpilih sebagai pemimpin Gereja Katolik pada 8 Mei 2025. Ia menjadi Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat.
Lahir di Chicago pada 14 September 1955, Prevost dikenal sebagai misionaris Ordo Santo Agustinus yang lama berkarya di Peru. Sebelum terpilih sebagai Paus, ia menjabat sebagai Prefek Dikasteri untuk Uskup serta memimpin Komisi Kepausan untuk Amerika Latin.
Dikenal sebagai figur moderat, Paus Leo XIV memiliki perhatian besar pada isu keadilan sosial, perlindungan imigran, serta lingkungan hidup, nilai-nilai yang kini semakin sering ia suarakan di panggung global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News