Ilustrasi. Foto: MI
Ilustrasi. Foto: MI

Petani dan Produsen Pangan Dunia Beri Peringatan Pemimpin Dunia di COP 27

Annisa ayu artanti • 07 November 2022 09:44
Kairo: Lebih dari 70 jaringan dan organisasi yang mewakili petani, nelayan, peternak, dan petani hutan seluruh dunia menyuarakan peringatan keras kepada para pemimpin dunia yang berkumpul di Mesir, untuk melaksanakan perundingan KTT Perubahan Iklim COP 27. 
 
Mereka memperingatkan soal ketahanan pangan global menjadi sangat rentan di era krisis iklim sehingga membutuhkan pendanaan adaptasi bagi produsen pertanian skala kecil berbasiskan perencanaan yang beragam dan mempertimbangan kondisi lokal. 
 
Peringatan berupa surat terbuka yang telah ditandatangani jaringan dan organisasi yang mewakili lebih dari 350 juta keluarga petani dan produsen atau pengusaha pangan dunia. 
 
Penandatangan surat itu juga mencakup Forum Desa Dunia yang mewakili 35 juta keluarga petani di lima benua, Aliansi untuk Kedaulatan Pangan di Afrika yang mewakili 200 juta produsen skala kecil di Benua Afrika, Asosiasi Petani Asia untuk Pembangunan Berkelanjutan dengan 13 juta anggota, dan Koordinator Pemimpin Teritorial Wanita Mesoamerika di Amerika Latin. Organisasi nasional dari Yordania hingga Inggris dan India pun telah menandatangani.
 
Baca juga: Isu Utama KTT G20, Bahas Krisis Pangan dan Energi

Di dalam surat terbuka tersebut, petani memperingatkan bahwa sistem pangan global saat ini tidak mumpuni dalam menghadapi dampak perubahan iklim, sekalipun dunia dapat menahan kenaikan pemanasan global di bawah 1,5 derajat celcius. 
 
Petani juga menyampaikan COP 27 seharusnya memprioritaskan pembangunan sistem pangan di tengah situasi suhu dunia yang semakin panas.
 
Selain petani, peran produsen skala kecil tak kalah penting untuk ketahanan pangan global, terlebih dengan produksi sebanyak 80 persen dari makanan yang dikonsumsi di kawasan seperti Asia dan Afrika Sub-Sahara. 
 
Namun, pada kenyataannya, negara-negara kaya hanya menyumbang 1,7 persen dari aliran pendanaan iklim di 2018 setara USD10 miliar atau senilai dengan Rp157 triliun, dibandingkan dengan yang diestimasikan yakni USD240 miliar per tahun atau Rp3.773 triliun yang dibutuhkan untuk membantu mereka beradaptasi dengan perubahan iklim.
 
Mencapai suatu komitmen pendanaan merupakan kunci sukses di COP 27. Pada KTT iklim Glasgow tahun 2021, negara-negara maju telah setuju untuk menggandakan pendanaan keseluruhan untuk adaptasi iklim menjadi Rp628 triliun per tahun pada tahun 2025. Namun, angka tersebut masih hanya sebagian kecil dari yang dibutuhkan.
 
Kini, lebih dari 70 jaringan dan organisasi yang mewakili petani, nelayan, peternak, dan petani hutan telah menandatangani surat terbuka tersebut, termasuk jaringan dan organisasi yang disebut di atas.
 
Baca juga: Sri Mulyani Ingatkan Jangan Abai dengan Krisis Perubahan Iklim 

“Produsen di jaringan kami memberi makan jutaan orang dan mendukung ratusan ribu pekerjaan, tetapi mereka telah mencapai titik puncaknya. Perlu ada dorongan besar-besaran dalam pendanaan iklim untuk memastikan produsen skala kecil memiliki informasi, sumber daya, dan pelatihan yang diperlukan untuk dapat terus memberi makan dunia bagi generasi mendatang," kata Presiden Federasi Petani Afrika Timur Elizabeth Nsimadala dalam keterangan tertulis, Senin, 7 November 2022.
 
COP 27 tahun ini berlangsung di tengah krisis harga pangan global. Meskipun belum ada kekurangan pangan global, dengan terjadinya kekeringan ekstrem, banjir, dan gelombang panas yang telah merusak panen di seluruh dunia, para ilmuwan telah memperingatkan peningkatan risiko kegagalan panen serentak di lumbung pangan utama dunia. 
 
Panel antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengatakan bahwa pergeseran ke sistem pangan dengan produk pertanian rendah yang lebih beragam adalah kunci untuk menjaga ketahanan pangan dalam perubahan iklim.
 
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Asia untuk Pembangunan Perdesaan Berkelanjutan Ma Estrella Penunia juga menyatakan, sebanyak USD611 miliar atau sekitar Rp9.607 triliun dihabiskan untuk mensubsidi produksi pangan setiap tahun, yang sebagian besar untuk industri, pertanian yang mengandalkan bahan kimia, yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. 
 
“Ini tidak dapat dilanjutkan. Para pemimpin harus mendengarkan para petani dan menempatkan masalah politik dan ekonomi mereka dan bergeser pada masalah produksi pangan yang lebih beragam, berkelanjutan, dan memberdayakan, terutama pertanian agroekologi, perikanan, kehutanan, dan peternakan,” papar Penunia.
 
Dia menambahkan, pangan dan pertanian sebagian besar diabaikan dalam negosiasi iklim meskipun bertanggung jawab atas 34 persen emisi dunia, yang sebagian besar berasal dari industri pertanian.
 
Para penandatangan, kata Penunia, juga menyerukan kepada pemerintah untuk bekerjasama dengan mereka untuk membangun sistem pangan yang lebih kuat, lebih berkelanjutan, dan lebih adil.
 
Sementara itu, di tempat yang sama Direktur Forum Pedesaan Dunia Laura Lorenzo mengatakan, makanan dan pertanian telah dikesampingkan dalam negosiasi iklim selama ini, serta kekhawatiran produsen kecil pun diabaikan. 
 
"Keluarga petani skala kecil membutuhkan ruang dialog agar dapat menyampaikan suaranya dalam keputusan yang memengaruhi jika ingin membangun kembali sistem pangan yang rusak," ungkapnya. 
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
 
 
(ANN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif