Ilustrasi. Foto: MI
Ilustrasi. Foto: MI

IMF dan WTO Beberkan Dampak Deglobalisasi terhadap Ekonomi Dunia

Antara • 30 November 2022 07:56

Berlin: Para pemimpin Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperingatkan terhadap dampak negatif deglobalisasi bagi ekonomi global akan mendorong langkah-langkah cerdas untuk mendiversifikasi rantai pasokan.
 
Setelah pertemuan dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, globalisasi menghadapi tantangan terbesarnya sejak Perang Dunia Kedua setelah pandemi covid-19 dan perang Rusia di Ukraina.
 
Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala juga memandang hal yang sama. WTO memperkirakan bahwa memecah ekonomi global menjadi dua blok perdagangan akan mengurangi produk domestik bruto global sebesar 5,0 persen dalam jangka panjang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mundur dari perdagangan, menjadi proteksionis akan membuat lebih sulit, bukan lebih mudah,  untuk menyelesaikan masalah yang kita miliki sekarang," kata Okonjo-Iweala, dilansir Antara, Rabu, 30 November 2022.

Baca juga: NATO Tekankan Pentingnya Laut Hitam bagi Pertahanan Aliansi 

"Proteksionisme, decoupling, fragmentasi sangat mengganggu dan akan sangat mahal,” imbuhnya.
 
Intinya, Okonjo-Iweala dan Georgieva mengatakan bahwa dampak deglobalisasi dan fragmentasi akan berdampak paling parah pada negara berkembang dan pasar negara berkembang. Dampak terhadap produk domestik bruto (PDB) di negara-negara tersebut akan mencapai dua digit.
 
Okonjo-Iweala juga menyerukan langkah untuk mendekonsentrasikan manufaktur dengan cara yang cerdas dan memperingatkan agar tidak terlalu mengandalkan mitra.
 
"Siapa itu teman? Seorang teman hari ini mungkin menjadi sangat tidak ramah besok," katanya.
 
Sementara itu, Georgieva mengatakan, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok akan melambat. Dia mengatakan data menunjukkan pertumbuhan global yang lebih rendah tahun depan daripada tingkat 2,7 persen yang diproyeksikan IMF pada pertengahan Oktober.
 
"Sentimen bisnis dan konsumen menunjukkan pelemahan aktivitas di kuartal keempat tahun ini dan berlanjut ke arah yang sama di 2023," katanya.
 
Sekitar sepertiga dari ekonomi dunia dan sekitar setengah dari Uni Eropa akan meluncur dalam resesi pada 2023. Ia juga menambahkan bahwa inflasi sekarang diproyeksikan akan bertahan lebih lama, meskipun secara bertahap dapat turun menjadi sekitar 6,5 persen tahun depan.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
 


 
(ANN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif